Kusta dan Filariasis Jarang,  TB Paru Masih Mendominasi 

Petugas Dinkes Kabupaten Jayawijaya  saat melakukan imunisasi kepada anak –anak di distrik –distrik belum lama ini. (Denny/Cepos)

WAMENA-Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya dr. Willy Mambieuw, SpB mengungkapkan bahwa  penyakit Kusta dan Filariasis (kaki Gajah) di Jayawijaya selama ini   jarang sekali dilaporkan oleh Puskesmas kepada Dinkes. Lain halnya dengan penyakit  TB Paru  yang hampir di semua distrik ditemukan kasus itu.

  “Memang ada  filariasis atau kaki gajah yang  ditemukan   di Wesaput   yang dilaporkan, namun itu sudah lama, sehingga dari laporan yang diajukan Puskesmas tiap bulannya kasus dua kasus ini sangat jarang dijumpai,”ungkapnya Kamis (11/7) kemarin.

   Kalau untuk TB Paru, kata dr. Willy, hampir semua distrik ada laporan,  hanya saja untuk angkanya dia belum tahu secara pasti. Tidak hanya TB Paru, bahkan TB Resisten juga sudah ada. Artinya pengobatan yang diberikan terus meningkat dari 3 bulan naik 6 bulan pengobatan sudah tidak bisa sehingga harus ditambah lagi 12 hingga 15 obat lagi.

  “Ini harus dikonsumsi setiap hari, sehingga ini yang membuat orang drop dan menjadi malas lagi minum obat, harus ada  pendampingan agar rutin mengkonsumsi obat itu, kita tidak bisa lepas lagi pasien minum sendiri di rumah untuk TB Resisten,”katanya.

  Untuk TB Paru ini, lanjut dr Willy, Fokus utamanya itu ada di paru –paru, nanti lewat aliran darah ia akan menyebar kemana saja artinya fokus utamanya di paru –paru tetapi kalau ikut aliran darah dan singgah di usus, maka TB Usus, kalau di Kulit TB Kulit , Kalau di Kepala atau otak disebut Miningetis TB.

  “Jadi kasus primernya di paru –paru, tetapi bisa menyebar kemana-mana, penularanya juga lewat drop infection artinya  virus ini menular lewat udara,”jelas dr. Willy

  Ia menilai, penularan TB ini kalau ada satu yang terinfeksi dan tinggal serumah dengan orang yang tak terinfeksi kemungkinan bisa ditularkan kalau tidak diobati. Peluang akan menyebar ke anggota keluarga yang lain, sehingga yang kena TB ini harus diobati.

  “Kita tidak mungkin memisahkan anggota keluarga yang terkena TB dengan yang tidak terinfeksi TB, contoh ibu dan anak tidak mungkin untuk dipisahkan, sehingga langkah yang perlu kita lakukan menemukan dan mengobati bagi yang positif TB,”bebernya.

   Ia menambahkan, untuk TB ini ini bisa diobati dan 100 persen sembuh  dan sumbernya harus dicegah agar tidak menularkan ke orang lain, dan penyakit ini tidak seperti hepatitis yang perlu pengobatan hingga bertahun. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *