Penderita HIV-AIDS Tertinggi di Peguteng

dr. Willy Mambieuw (Denny/ Cepos)

KPA Klaim Banyak Pasien dari Luar Wamena

WAMENA- Ketua I Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jayawijaya dr. Willy Mambieuw mengungkapkan bahwa  data penderita HIV-AIDS di Jayawijaya tertinggi di antara Kabupaten pemekaran yang ada di Pegunungan Tengah Papua. Hal ini dikarenakan sistem Screening di Jayawijaya yang bagus. Artinya lebih banyak penderita yang terdeteksi.

   Menurut dr Willy, dari data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencantumkan jika penderita HIV di Jayawijaya sebanyak 1.784, sedangkan untuk AIDS 4.458 , total jumlahnya 6.242 serta yang meninggal dunia 508,

  “Kalau kita lihat dalam angka, memang Jayawijaya tinggi dan kita menerima itu karena factor screening di Jayawijaya lebih baik, sehingga kasus ini bisa terungkap, artinya tak ada yang terlewatkan atau mungkin hanya satu atau dua orang,”ungkapnya saat ditemui di Gudang Farmasi Jayawijaya, Kamis (11/7).

   Sedangkan untuk kabupaten pemekaran lainnya   angkanya di bawah Jayawijaya, seperti Nduga 1 orang, Yahukimo 22 Orang, Yalimo 76 orang, Tolikara 864 orang , Lanny Jaya 724 orang, Mamteng 43 orang. Menurut Willy, banyak pasien dari luar Jayawijaya juga yang sering lakukan screning di Wamena dan data itu jelas masuk dalam data Jayawijaya ini yang membuat data Jayawijaya tinggi.

   Kalau dilihat kembali dan dipila –pila, Kata dr Willy,  dari rumah sakit Wamena bisa saja mengambil data kependudukannya untuk dicek  pasien ini dari kabupaten mana. Kalau dilakukan begitu otomatis tidak sebanyak itu, namun kalau memang tinggi maka harus diambil positifnya saja sehingga bisa menjadi motivasi untuk  menjaga agar tidak bertambah kembali.

  “Kalau dilihat dari sisi positifnya angka ini memang bagus artinya kita bisa mengungkap kasus HIV-AIDS di Jayawijaya, dan kita juga bisa menjaga agar angka ini jangan bertambah terus,”katanya.

  Ditambahkan bahwa setiap kali mencurigai pasien yang terinfeksi HIV-AIDS barulah dilakukan konseling kepada yang bersangkutan barulah dilakukan screening, sementara kalau pasien yang mau operasi itu wajib dilakukan Screening tanpa harus memberitahu pasien.

  “Sebenarnya untuk screeing saya setuju kalau semua layanan kesehatan langsung saja melakukan tes, cuma persoalannya reagen kita tidak mencukupi,”tutupnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *