Sampaikan Ingin Makan KFC, Suami Bertahan Karena Terlalu Sayang

Gamel/Cepos

SAKIT: Pasien Sarwana saat masih terbaring di rumah kosnya di Jalan Hotel Delima, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, sebelum dibawa ke RSUD Jayapura, Senin (8/7).

Mengunjungi Pasien Sarwana yang Bertahun-tahun Terbaring Sakit Tak Tersentuh Medis

Cinta mengalahkan rasa. Sayang menguatkan arti bersama. Kalimat ini nampaknya pantas disematkan kepada Asri yang memilih terus mendampingi sang istri Sarwana meski cobaan menerpa. Bertahun-tahun ia menjaga sang istri yang hanya bisa terbaring.

Laporan: Abdel Gamel Naser, Jayapura

TERNYATA persoalan sosial masyarakat dan kepekaan terhadap sesama bisa terkikis meski bukan di kawasan pemukiman yang statusnya perumahan elit. Sikap peduli dengan tetangga di Kota Jayapura yang sejatinya tak besar, perlu menjadi renungan bersama. Akan menjadi aneh apabila sesama tetangga tak saling mengetahui kabar masing-masing. Apalagi bagi mereka yang nyata-nyata patut mendapatkan perhatian lebih dan mendapatkan penanganan segera.

Seperti ini yang dialami seorang wanita bernama Sarwana (33) yang Senin (8/7) kemarin baru diketahui publik setelah bertahun-tahun hanya terbaring di rumah kosnya karena sakit. Selama 2 tahun, ia terbujur kaku dan baru kemarin dilarikan ke RSUD Jayapura. Informasi ini langsung menyebar dan satu persatu masyarakat yang penasaran langsung menyambangi ibu dua anak ini di kos-kosannya di Jalan Hotel Delima, Entrop, Distrik Jayapura Selatan.

Cenderawasih Pos yang juga penasaran mencoba mendatangi lokasi kosnya dan ternyata tak sulit. Tempatnya persis di jalan poros menuju Hotel Delima atau di belakang lokasi yang akan dibangun menjadi terminal Tipe B Kota Jayapura. Setelah menikung sekali dan masuk lorong pertama, posisi kos-kosan Sarwana hanya sekira 20 meter dari jalan.

Ia memilih tinggal di sebuah kos di lantai 1 bersama suami dan kedua anaknya. Hanya secara fisik bisa dibilang ruangan dengan ukuran 3 x 4 meter ini kurang layak karena masih sering tergenang jika banjir. Apalagi kamar yang menjadi satu dengan dapur ini belum diplester dan lebih rendah sekira 50 cm dari permukaan jalan.

Tempatnya juga cukup lembab dan minim sirkulasi udara. Meski demikian harga perbulannya masih terjangkau. Pemilik kos hanya menarik Rp 500 ribu perbulannya. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah kipas angin berdiri yang anginnya masih terasa kencang.

Selain itu di pojokan ruangan terlihat sebuah kompor, ember dan peralatan masak yang bergelantungan. Ada rak kecil di pinggir dipan tempat Sarwana terbaring. Rak ini digunakan sebagai lemari pakaian dan paling atas terlihat obat-obatan seadanya.

Di kamar mungil ini, Sarwana tidur di atas sebuah spon yang sepreinya tak tertutup penuh. Bagian dipannya juga dikosongkan 30 cm untuk meletakkan makanan seperti bubur atau es teh, menu yang diinginkan saat itu.

Sarwana terlihat nyaman dengan kasur ini meski sesekali ia nampak menahan rasa sakit karena bagian pinggang ke arah kakinya terasa nyeri ketika digerakkan.

Di kamar ini juga ada sebuah dispenser, magic jar dan satu televisi tabung. Agar tak dingin ia mengalas lantainya dengan matras tipis. Terlihat jelas kamar ini cukup lembab sebab sebagian besar dinding belum diplester. Kalaupun ada yang diplester warna catnya juga mulai pudar akibat jamur.

Saat ditemui di kosnya, Sarwana saat itu mengenakan baju dan celana berwarna pink. Meski demikian ukuran bajunya ini sudah jauh longgar dibanding sebelum ia sakit.

Maklumlah dari sakit yang dirasa sejak tahun 2006 ini tubuhnya menyusut drastis. Bahkan terlihat hanya kulit membungkus tulang dengan warna kulit yang menghitam. Meski demikian Sarwana masih lancar berbicara.

Ia mampu mendengar dengan baik dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Bahkan sesekali ia nampak berpikir untuk memberi jawaban yang tepat. Sang suami bernama Asri sendiri kesehariannya bekerja sebagai sopir. Ia harus bekerja keras mengingat ia harus berdiri tegak untuk menghidupi tiga orang. Istri dan kedua anaknya yang masih kecil.

Diceritakan bahwa awal mula sakitnya sang istri berawal tahun 2006 atau dua tahun setelah dirinya menikah. Saat itu sang istri mengeluh sakit pada bagian kakinya. Sakit itu membuat kakinya bengkak. Tak hanya itu, suhu tubuhnya kadang panas dingin. Ia sampai menggigil.

Beberapa penanganan juga sudah dilakukan termasuk kata Asri sampai dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Namun hasil medis ketika itu menyebut bahwa sang istri tak mengidap penyakit. “Hanya kadang kambuh, suhunya tubuhnya kadang panas dingin. Selalu begitu. Pernah diambil darah lengkap tapi tidak ada penyakit apa-apa,” kata Asri.

Karena kambuhan dan dinyatakan tak ada sakit yang dialami disitulah Asri memilih untuk melakukan pengobatan tradisional. Namun bukannya sembuh, kondisi istrinya justru tetap parah hingga seperti sekarang. Asri mengaku sempat bingung dan tak tahu lagi harus melakukan apa.

Dengan kondisi keuangan yang terbatas akhirnya ia hanya pasrah. Meski sudah berobat ke mana-mana ternyata sang istri tak kunjung sembuh dan penyakit terus menggerogoti istrinya hingga hampir sekijur tubuhnya terlihat hitam legam.

Walau demikian, pria berusia 37 tahun ini tetap mendampingi sang istri. Ia tak ingin meninggalkan wanita yang dinikahi sejak tahun 2004 itu. Meski tak secantik ketika masih usia sekolah, Asri mengaku tak ingin meninggalkan istrinya. Ia meyakini apa yang dialami adalah cobaan dari Tuhan yang harus dihadapi. “Tidak bisa, tidak ada pikiran apa-apa. Apalagi sampai harus meninggalkan dia (istri). Saya terlanjur sayang dan menganggap ini cobaan Tuhan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (9/7). Asri mengaku meski berat, ia harus jalani apalagi ia telah dikaruniai dua orang anak yang menjadi amanah untuk dibesarkan.

“Kadang kalau istri saya tidur, saya perhatikan dan memang sedih, kadang saya menangis melihat kondisinya. Ia harus menanggung sakit sendiri,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Asri teringat kadang bila dirinya narik, sang istri masih sempat menelepon minta dibawakan makan. Tapi setelah sampai di rumah ternyata istrinya sudah tidur. Di situ Asri makin sedih karena ia berharap dari nasi yang dibawa pulang akan dimakan sang istri, ternyata tidak. “Saya senang sekali kalau dia mau makan, senang sekali. Artinya uang hasil kerja saya dinikmati oleh keluarga,” ucapnya.

“Kadang dia minta dibelikan nasi uduk dan saya bilang tunggu sudah, tapi sampai di rumah dia sudah tidur,” kenang Asri.

“Keadaan kami memang sedang sulit tapi saya tidak akan meninggalkan dia, saya pikir istri saya sudah berjuang untuk kami tetap bersama-sama sehingga saya akan tetap mendampingi dia,” sambungnya.

Keberadaan Sarwana sendiri diketahui setelah tetangganya bernama Zul Putra memposting kondisi Sarwana ke media sosial. Zul mengaku sempat diprotes oleh pihak keluarga namun ia menegaskan bahwa tujuannya baik agar Sarwana bisa segera diobati.

“Sebelumnya saya juga sudah meminta izin kepada dia (Sarwana) dan ia memperbolehkan. Jadi postingan itu karena sudah bicara lebih dulu,” bebernya.

Sementara terkait ini, Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., menyentil sikap kepedulian masyarakat di Kota Jayapura.

Ia menyebut bahwa hal-hal semacam ini seharusnya tak perlu terjadi bila sesama tetangga atau keluarga saling peduli. “Masak dua tahun baru ketahuan. Baru dibawa ke rumah sakit. Ini juga lolos dari pengamatan medis di lapangan,” sindirnya.

Rustan juga meminta agar paguyuban-paguyunan di Jayapura bisa lebih peka melihat kondisi sosial masyarakat atau anggota kerukunannya. “Namun kadang kami melihat kepekaan dan sikap sosial masyarakat kita di Jayapura memang menurun. Rasa peduli dengan tetangga ini membuat kita malas tahu sehingga hasilnya seperti ini. Paling tidak dengan menyuarakan itu sudah membantu, jangan sampai ada lagi pasien yang sakit menahun tapi tidak tertangani dan dicuekin. Harus peduli,” pinta Rustan.

Karena pasien berasal dari Sulawesi, Rustan berharap KKSS mengerahkan kemampuannya untuk membantu. “KKSS yang harus mengawal agar pasien ini tertangani dengan baik dan kita tunjukkan kepedulian antar sesama,” pintanya.

Sementara, setelah ditangani di IGD RSUD Jayapura, Sarwana, Selasa (9/7) akhirnya masuk ke ruang penyakit dalam wanita, Adonai.

Pantauan Cenderawasih Pos, perhatian terhadap pasien ini dari warga cukup tinggi. Bahkan ada juga netizen dari Jakarta yang ikut menanyakan kondisi pasien termasuk bagaimana caranya untuk membantu. “Ia saya penasaran juga mengapa bisa sampai seperti itu. Lalu bagaimana caranya biar saya bisa ikut membantu,” ujar salah satu Netizen asal Jakarta yang pernah membuat buku tentang Papua tanpa mau disebutkan namanya. “Jangan sebut nama saya di Medsos ya,” pintanya.

Salah satu pekerja sosial Jayapura, Gunawan menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menyiapkan seluruh berkas yang dIbutuhkan untuk perawatan termasuk e-KTP dan BPJS. Namun yang jadi soal adalah dua anak Sarwana belum bisa ditinggal. “Kasihan tadi malam mereka tidur di taksi bapaknya. Tidak mau tinggal di rumah karena ayah ibunya di sini (rumah sakit),” kata Gunawan.

Tak hanya itu, karena harus menjaga sang ibu dan adiknya, anak tertua Sarwana bernama Arjuna harus rela putus sekolah. Sebelumnya ia dinyatakan naik ke kelas 2 SMP namun karena tak ada yang menjaga ibunya terpaksa ia harus putus sekolah.

Gunawan sendiri mengaku, sempat dititipi pesan oleh Sarwana yang ingin makan ayam goreng KFC. “Tadi pasien bilang minta dibelikan KFC. Sebenarnya tidak masalah mau makan apa saja. Kami justru senang karena ada nafsu makan. Tapi kami pikir lambungnya belum kuat, jadi nanti tunggu normal,” kata Gunawan.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak medis terkait penyakit yang diderita Sarwana. Perlu dilakukan diagnosa dan harus diambil darah lengkap terlebih dahulu. Hanya yang menjadi soal adalah pembuluh darah pasien belum terlalu nampak sehingga saat ini kondisinya masih distabilkan lebih dulu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *