Kemedagri Dorong 14 Kabupaten Turunkan Angka Stunting

Bimtek konvergensi percepatan pencegahan stunting (anak kerdil) bagi 14 kabupaten, Selasa (9/7) di Aula Bappeda. Denny/ Cepos

WAMENA-Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri terus mendorong  14 kabupaten di Papua, untuk bersama-sama menurunkan stunting yang angkanya masih sangat tinggi, khususnya di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

  Kepala Seksi SUPD3 Direktorat Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Zamhir Islamie mengatakan, dari hasil riskesdas 2013 dan 2018 menunjukan bahwa angka stunting di Papua masih tinggi yang berada di angka 32,9 persen persoalan stunting ini tidak bisa hanya menjadi tanggungjawab kementerian maupun Dinas Kesehatan saja, tetapi perlu adanya campur tangan kepala daerah beserta OPD-OPD lainnya untuk menurunkan angka tersebut.

  “Kenapa ini tidak ditangani langsung oleh kementerian kesehatan, karena kalau dibiarkan hanya sektor kesehatan hal ini tidak akan selesai, sehingga perlu campur tangan pimpinan daerah, Kepala Bappeda dan OPD lainnya sangat diperlukan dalam penurunan masalah Stunting di Papua,”ungkapnya pada Bimtek Konvergensi percepatan pencegahan stunting (anak kerdil) bagi 14 kabupaten, di Aula Bappeda Jayawijaya, Selasa (9/7).

    Zamhir Islamie menambahkan, masalah stunting ini telah menjadi program prioritas nasional untuk menurunkannya, sehingga perlu suatu persamaan persepsi jika masalah stunting ini bukan hanya masalah kesehatan saja, tetapi mencari jalan keluar bagaimana memenuhi pelayanan dasar guna menekan angka yang ada.

  Wakil Bupati Jayawijaya, Marthin Yogobi saat membuka bimtek mengatakan, masalah gizi terkait dengan stunting di Papua yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (37,1 persen), berat bayi lahir rendah BBLR (10,2 persen), balita kurus atau wasting (10,1 persen) dan anemia pada balita. Hanya (48,6) persen anak yang tidak menderita gangguan gizi.

  “Pencegahan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan, khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan).”katanya

  Selain itu, lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan pada bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan, serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya air bersih dan sanitasi (lingkungan) juga menjadi titik berat pencegahan stunting.

  “Keempat faktor itu secara tidak langsung mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak, sehingga intervensi terhadap keempat faktor ini diharapkan dapat mencegah malnustrisi baik kekurangan maupun kelebihan gizi,”beber Wakil Bupati.

  Sementara Sekda Lanny Jaya Christian Sohilait Menilai jika semua daerah di Papua sebenarnya punya anak-anak kurang tinggi, itu data yang mereka keluarkan, sehingga ada program ini dan Pemda Lanny Jaya menyadari itu dan stunting itu berada pada pertumbuhan badan, sehingga harus didukung fasilitas dasar. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *