Kesehatan di Korowai Tak Banyak Alami Perubahan

JAYAPURA-Bolongnya pipi dari bocah bernama Puti Hatil asal Korowai awalnya dikira penyakit noma atau infeksi jaringan mulut dan struktur di sekitar mulut. Informasi ini langsung menyebar cepat hingga ke   Kementerian Kesehatan dan tak menunggu lama, berbagai tim kesehatan kemudian turun ke Korowai untuk mengecek kondisi kesehatan di kampung masyarakat rumah pohon tersebut.

  Pemerintah khawatir bila ternyata yang dialami bocah berusia 2 tahun tersebut betul Noma artinya perlu penanganan serius. Noma bisa membunuh lebih cepat dari penyakit HIV-AIDS dan dari catatan kesehatan, 90 persen yang terkena noma dipastikan akan meninggal. Namun setelah diperiksa ternyata Puti Hatil hanya mengalami Ulcus  Chronis atau luka akibat infeksi. Infeksi ini membuat bagian pipi kirinya berlubang.

  Kekhawatiran pemerintah ini muncul sejak Oktober tahun 2017, dimana persoalan kesehatan di Korowai langsung diperhatikan pemerintah pusat. Hanya sayangnya hingga kini pasca kunjungan demi kunjungan ternyata kondisi kesehatan di Korowai dikatakan tak banyak berubah.

   “Saya bisa katakan seperti itu, sebab saya awalnya berpikir akan ada intervensi kesehatan yang jauh lebih baik dibanding kemarin. Ternyata tidak. Masyarakat  terus meninggal dan sakit-sakitan,” kata Ketua Kopkedat Papua, Yan Akobiarek melalui rilisnya, pekan kemarin.

  Kopkedat sendiri merupakan kelompok yang selama ini mengadvokasi isu-isu kesehatan dan pendidikan di Korowai. “Kami  menanyakan sejauh mana tim terpadu utusan kementerian yang Oktober 2017 lalu datang.”ujarnya.

    Mereka datang ke Danowage Korowai Batu  dan memberikan pelayanan kesehatan. Namun sayangnya kata Yan, kesannya upaya tersebut hanya insidentil dan setelah itu dilupakan. “Saya sempat berpikir tim  terpadu ini setelah mereka kembali ke Jakarta akan ada perubahan wajah kesehatan di Korowai yang dilakukan dari segi kebijakan,” katanya.

  Karena kata Yan, jeritan orang Korowai di pedalaman bukan baru tetapi sudah bertahun-tahun dan masalah sudah ada di depan mata namun masih saja terabaikan. “Ibu Perin, istri salah satu penginjil Jimmy Weyato yang juga sebagai kader kesehatan di Danowage telah mengeluh kekurangan stok obat, namun ia sendiri bingung harus melakukan apa dan bagaimana caranya membantu. Ada yang terkena TBC yang harus mengkonsumsi obat secara rutin tapi stok kini habis sehingga hanya dibantu dengan doa,” imbuhnya.
  Kata Yan, suku Korowai tidak memiliki angka kelahiran atau populasi jiwa yang cepat dan bila tidak diperhatikan baik dari segi kesehatan mereka maka akan berdampak pada pertumbuhan populasi. “Kami berharap ada penanganan lanjutan,” imbuhnya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *