Unicef Komitmen, PON Papua Harus Bebas Malaria

Perwakilan Unicef William A. Hawlaey, PhD, MPh (Robert Mboik Cepos)

SENTANI- Provinsi Papua menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang masih memiliki tingkat kerentanan terhadap tingginya penyebaran nyamuk Malaria. Meski dari tahun ke tahun sudah dinyatakan turun namun daerah Papua yang menjadi salah satu daerah endemik malaria di Indonesia telah mendapat perhatian khusus dari UNICEF.

William A. Hawlaey, PhD, MPh salah datu konsultan kesehatan UNiCef mengatakan pihaknya sangat berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia dalam hal ini provinsi Papua khususnya kabupaten Jayapura untuk memberantas penyebaran nyamuk Malaria sebelum penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional tahun 2020 mendatang.

” Kita prioritaskan tahun depan ada penyelenggaraan PON di Provinsi Papua. Kami ingin mengendalikan penyebaran malaria dengan lebih baik supaya seluruh peserta PON Papua tidak akan terinfeksi malaria,” ungkap William A. Hawlaey, kepada wartawan di Sentani, Rabu (26/6).

Dia mengatakan untuk memberantas penyebaran penyakit malaria di Provinsi Papua pihaknya bekerjasama dengan pemerintah Republik Indonesia baik mulai dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dinas kesehatan kabupaten hingga ke kampung kampung.

“Inikan kerjasama UNICEF WHO dan pemerintah hingga ke tingkat yang paling bawah,” tandasnya.

Dia menjelaskan Unicef begitu peduli untuk membrantas penyakit malaria di Indonesia salah sepatunya di Provinsi Papua secara khusus di Kabupaten Jayapura. Karena pada dasarnya penyakit malaria ini sangat rentan menyerang kaum ibu dan anak-anak

“Kita harus lebih fokus kegiatan pemberantasannya dan juga mengembangkan diagnosa yang lebih cepat,” bebernya.

Sementara itu, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Chairul Lie mengatakan, secara umum Kabupaten Jayapura menargetkan Kabupaten Jayapura harus bebas malaria sebelum tahun 2030.

Menurutnya ada beberapa upaya yang dilakukan pihaknya sejauh ini dalam rangka mencapai harapan Kabupaten Jayapura bebas malaria yang pertama melakukan perbaikan diagnosa, pemberian obat yang baik, program kelambunisasi massal kemudian melibatkan masyarakat melalui program siaga malaria.

“Kemudian dengan menyemprotkan obat khusus ke daerah-daerah yang tinggi penyebaran malaria nya,” tambahnya.(roy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *