DP3AKB Terima 10 Kasus Kekerasan Perempuan

Juli E Massa. (Denny/ Cepos )

WAMENA- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana  (DP3AKB)  Juli E Massa mengungkapkan bahwa pada semester pertama ini, ada  10 kasus kekerasan terhadap perempuan, dan 1 kasus  perlindungan anak.  Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan kebanyakan dikembalikan untuk diselesaikan secara adat karena mereka hanya menikah adat.

  “Kebanyakan yang melapor dalam semester ini adalah kasus kekerasan terhadap perempuan dan kebanyakan yang mengalami kekerasan fisik ini adalah yang menikah secara adat sehingga kita juga harus kembalikan diselesaikan secara adat,”ungkap Juli Massa saat ditemui Selasa (25/6) kemarin.

  Usai diselesaikan secara adat, menurut Juli, sampai saat ini tidak ada lagi  yang melapor kepada dinas. Pihaknya juga jarang melakukan pendampingan bagi kasus yang diselesaikan secara adat, kecuali korban ke RSUD Wamena untuk divisum dan  ke Kepolisian untuk membuat laporan, barulah akan didampingi.

    Meski menikah secara adat, lanjut Juli,  namun apabila korban mengalami kekerasan dan ingin melanjutkan ke proses hukum itu bisa saja dilakukan pendampingan, baik dari Dinas, kepolisian, Kesehatan tergantung bagaimana tingkat parahnya luka yang dialami oleh korban dan keinginan korban.

   Dalam laporan kasus kekerasan itu, lanjut Juli Massa, 8 orang itu merupakan masyarakat asli Papua dan dua orang merupakan masyarakat dari luar Papua, meskipun indikasi kekerasan perempuan ini banyak tetapi tingkat kesadaran perempuan untuk melaporkan kasus tersebut masih rendah.

    Ia menilai jika kasus kekerasan perempuan dikembalikan ke adat, sama sekali tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku kekerasan. Sebab, bayar denda itu bukan kepada korban tetapi keluarga korban, sementara utnuk korban tidak menikmati denda adat dan dibiarkan saja.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *