Pertahankan Situs  Sejarah, Ahli Waris Ukur Kuburan Libra

Pengukuran yang dilakukan oleh para ahli waris bersama dengan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Merauke di kuburan Kristen,  Libra Merauke, Kamis (20/6).  (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Untuk mempertahankan   kuburan  yang ada di sekitar Lingkaran Brawijaya (Libra) sebagai situs sejarah, para ahli waris  dari keluarga yang tete dan nenek mereka dikubur di  kuburan Kristen   tersebut melakukan pengukuran  bersama dengan Badan Pertanahan  Nasional  (BPN) Merauke.

   Ketua Ahli Waris Penyelamat Situs Sejarah tersebut Aloysius Dumatubun, SH, ketika ditemui di sela-sela pengukuran yang dilakukan  tersebut mengungkapkan bahwa  pengukuran   yang pihaknya  lakukan ini untuk mengetahui apa  luas  yang teregistrasi di Badan Pertanahan Kabupaten Merauke masih sesuai dengan  fakta lapangan. ‘’Jadi    ini kita lakukan untuk mengetahui  berapa sebenarnya luas  kuburan ini. Apakah masih  sama dengan yang teregister  di Badan Pertanahan Kabupaten  Merauke,’’ tandasnya.   

     Kuburan  umum pertama  bagi orang Kristen   ini memiliki luas   hampir 2 hektar dengan Panjang 190 meter lebih dan lebar 90 meter lebih.

   Sebagai ahli waris dari  para orang tua, tete nenek yang dikuburkan di tempat tersebut, kata  Aloysius Dumatubun, pihaknya  akan tetap mempertahankan kuburan   tersebut sebagai situs sejarah. Karena  mereka yang dikuburkan di tempat ini  sebagian besar merupakan  pelaku sejarah.

  “Kami tidak mau tulang belulang mereka dipindahkan. Biarlah mereka tetap di sini tidur dengan tenang. Karena selama ini mereka tidak pernah mengganggu  kita. Termasuk saya punya tete nenek dan saudara-saudaranya  masih   dikuburkan ditempat ini,’’ jelasnya.

   Soal adanya sebagian kuburan yang sudah dipindahkan  saat pembangunan  Libra,  Aloysius Dumatubun menjelaskan bahwa  pemindahan tersebut  menjadi urusan pemerintah dengan keluarga   yang  tulang belulangnya sudah dipindahkan. “Tapi bagi kami tidak mau dipindahkan  situs sejarah ini dipindahkan,’’ tandasnya.

   Aloysius   menambahkan bahwa jika ada yang  ingin memindahkan, maka akan berhadapan dengan  para ahli waris. ‘’Kami akan mati-matian    untuk mempertahankan ini jika ada yang berusaha memindahkannya,’’ tandasnya.   

   Sekadar  diketahui,  penolakan ini terkait dengan rencana  Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Perumahan Rakyat, pertanahan dan  pemakaman  pada tahun 2019 ini  berencana akan memindahkan  kuburan  yang ada di tempat ini  ke Taman  Makam Tanah Miring , Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke.   (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *