Medsos Seperti Pedang Bermata Dua

Seorang anak yang asik bermain Handphone. Dimana Handphone  salah satu alat media sosial saat ini. (Gamel/Cepos)

Jahja Rumra: Telaah Sebelum Membagikan

JAYAPURA – Hari Media Sosial secara nasional yang diperingati pada 10 Juni  kemarin menjadi momentum untuk mengintrospeksi diri. Sejauh mana gadget atau android mengendalikan kepribadian manusia termasuk mengubah karakter sosial yang dulunya masih kental. Sejak ditemukan situs jejaring sosial dan harga smartphone makin terjangkau,  kesannya tak ada lagi ruang privasi dengan dunia luar.

Medsos dikatakan bisa memberi manfaat positif jika diambil nilai potifinya namun jika salah maka terjebak ke situasi yang tak mengenakkan.

“Harus lebih berhati-hati dengan Medsos saat ini. Ada sisi positifnya namun ada juga dampak negatifnya. Dunia luar bisa dengan mudahnya mengetahui apa yang kita makan, kemana kita hari ini, seperti apa kamar tidur kita bahkan sampai pada perasaan kita. Ini tak selamanya baik,” beber Sekretaris Eksekutif Rumah Belajar Papua, Dian Wasaraka. Wanita berhijab yang kini mengajar sebagai dosen di Stikom ini membeberkan beberapa dampak negatif dari Medsos.

“Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mencatat terdapat 25.179 aduan yang dilayangkan masyarakat terkait konten negatif di media sosial (medsos) dalam dua tahun terakhir dan bila kebablasan tentu dampaknya bisa kemana-mana. Kembali lagi Medsos ini seperti pedang bermata dua,” jelasnya.

Medsos seperti pedang bermata dua, lajut Dian Medsos tetap memiliki nilai positif bila memang mau dilarikan kesana. Misalnya bisnis online  justru tumbuh berkembang, para elit dengan mudah menjalin ikatan dengan konstituennya termasuk informasi tak lagi melulu dimonopoli orang pusat namun bisa mudah dan terbuka diakses oleh siapa saja dimana saja

“Jadi ini kembali berpulang kepada pribadi masing-masing saja untuk bisa bermedsos,” pungkasnya.

Sementra itu Kasubag Humas Polres Jayapura Kota Iptu Jahja Rumra mengatakan media sosial merupakan salah satu wadah yang tidak bisa hilang dari masyarakat. Ia merupakan salah satu kebutuhan masyarakat dari semua kalangan, bahkan anak kecil sekalipun yang sudah bisa menggunakan  Hp akan mengunakan media sosial.

Namun lanjut Jahja, untuk penggunaan  media sosial sendiri tidak bisa diberikan kebebasan begitu saja terhadap anak-anak. Bahkan termasuk  orang dewasa,  sebab jika salah menggunakan media sosial maka akan berurusan dengan hukum.

“Tidak semua  informasi yang kita lihat di media sosial itu benar, maka dari itu kitaa pandai dalam menilai berita  yang orang  kirim ke media sosial baik facebook, WhatsAp, Line, Instagram dan lainnya dan harus di telaah dulu baru dibagikan” pungkasnya. (ade/fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *