Pemkab Jayawijaya Mulai Benahi Potensi Wisata

Wisata Pasir Putih yang ada di pinggiran Kota Wamena, sebagai salah satu tempat wisata yang disiapkan oleh pemerintah Jayawijaya .Denny/Cepos

WAMENA-Pemkab Jyawijaya terus melakukan persiapan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) tahun 2019 dan 2020 dan  terus membenahi potensi wisata yang ada di Jayawijaya.  Dimana untuk pelaksanaan FBLB tahun 2020  berdekatan waktunya dengan pelaksanaan PON XX, sehingga dipastikan akan banyak pengunjung. Apalagi, Jayawijaya juga menjadi salah satu tempat pelaksanaan PON.

   Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan , sedikitnya  ada empat tempat wisata yang terus dilakukan pembenahaan seperti Goa Kuantilola, Pasir Putih, Mumi dan tempat pemandian. Disamping itu juga wisata alam seperti air terjun, fasilitas menuju ke danau Habema juga dipersiapkan.

  “Ada beberapa fasilitas wisata yang saat ini sedang dilakukan pembenahan seperti yang ada di pinggiran kota maupun yang jaraknya agak jauh dari kota. Ini untuk pelaksanaan FBLB tahun ini dan tahun depan yang juga ada pelaksanaan even PON,”ungkapnya, Kamis (23/5) kemarin.

  Menurut Dia, ada beberapa yang sudah dilakukan pembenahan, misalnya di Sogokmo ada kolam pemandian, lalu goa di Wosi disiapkan semua fasilitas MCK, lampu di dalam  goa juga disiapkan. Pihaknya  juga akan menata potensi wisata  pasir putih dengan goa Kontilola di Pyramid.

  “Tempat wisata yang sering dikunjungi oleh turis ini yang kita coba untuk  lengkapi fasilitas pendukungnya, agar turis juga merasa nyaman di Jayawijaya,”jelas Alpius.

    Pada tahun ini juga, lanjut Alpius, ada hal yang baru, yaitu pembentukan Generasi Muda Pesona Indonesia (Gempi). Ini merupakan  satu himpunan yang dibentuk dari kementerian. “Jadi nanti ketika ada kegiatan-kegiatan pariwisata, mereka ini yang nantinya akan mempromosikan ke luar, jadi diekspos menggunakan WA dan lain-lain.”katanya

   Sementara untuk mumi,  sebenarnya pihaknya sudah perbaiki semua. Hanya saja,  sekarang ada perawatan. Pihaknya kesulitan akses untuk menjangkau tempat-tempat itu karena memang harus ditempuh dengan jarak cukup jauh dan  orang jalan kaki.

  “Kalau para wisawatan asing dia tidak apa, dia senang, tetapi kalau orang Indonesia ini tidak mau, dia mau pakai kendaraan, jadi memang agak susah.”ujarnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *