Ribuan Prajurit TNI Bantu Pengamanan Pengumuman Hasil Pemilu

Pemerintah Cium Kelompok yang Hendak Tunggangi Gerakan Massa

JAKARTA-Guna mengantisipasi berbagai potensi gangguan saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pemilu, TNI kembali melakukan simulasi pengamanan di Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Senin pagi (20/5) ribuan prajurit dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) bersama personel Kodam Jaya mempraktikan skema penyelamatan di hadapan sejumlah pejabat teras Mabes TNI.

Sebagai instansi yang dipercaya membantu Polri dalam mengamankan pengumuman hasil Pemilu, sejak jauh hari TNI memang sudah bersiap diri. Di antaranya melalui latihan dan simulasi yang berulang mereka lakukan. Tidak terkecuali yang mereka laksanakan kemarin. ”Mengerahkan empat helikopter TNI AD,” terang Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sisriadi kepada Jawa Pos kemarin.

Dalam latihan tersebut, turut diperagakan sejumlah teknik penyelamatan oleh prajurit TNI. Salah satunya fast roping yang dilaksanakan langsung dari atas helikopter. Sebelum simulasi kemarin, Mabes TNI juga sudah melakukan latihan akhir pekan lalu (17/5). Menurut Sisriadi, simulasi yang dilakukan prajurit TNI merujuk pada tactical floor game (TFG) yang sudah disusun melalui koordinasi di Mabes TNI pada Kamis (16/5).

”Untuk menguji kesiapan personel, TNI melaksanakan latihan TFG dan latihan lapangan beberapa hari lalu,” ungkap Sisriadi. Serupa dengan kemarin, latihan tersebut dilaksanakan di Monumen Nasional. Lewat latihan tersebut, prajurit TNI yang diberi tugas untuk pengamanan proses hitung suara maupun pengumuman hasil Pemilu dihadapkan pada situasi rusuh. Hingga mereka harus menurunkan satuan khusus.

Target utama yang diselamatkan oleh para prajurit tersebut adalah petugas KPU berikut sejumlah data di kantor KPU. Selain prajurit yang sudah mereka siapkan, alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari tiga matra TNI juga turut digerakkan. Bahkan, KRI dr Soeharso 990 sebagai kapal bantu rumah sakit juga diposisikan untuk mengantisipasi situasi dan kondisi darurat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurut Sisriadi, TFG adalah salah satu latihan penting. Sebab melalui latihan tersebut prajurit TNI di lapangan disiapkan berhadapan langsung dengan beragam kondisi. Merujuk data dari Pusat Penerangan TNI, sejauh ini jumlah personel TNI yang diminta membantu Polri sebanyak 12 ribu orang. ”Selain 12 ribu personel tersebut, TNI menyiapkan 20 ribu personel cadangan,” imbuhnya.

Seluruh personel yang diperbantukan itu bergerak di bawah komando Kodam Jaya. Di Jakarta, Kodam Jaya bekerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk mengamankan pengumuman hasil Pemilu. Di samping pasukan Kostrad, mereka juga dapat bantuan pasukan dari Kodam III/Siliwangi dan Korps Marinir. ”Mereka dibawahperintahkan ke Kodam Jaya,” beber jenderal bintang dua TNI AD tersebut.

Saat dikonfirmasi, Kepela Penerangan Kostrad Kolonel Infanteri Adhi Giri Ibrham menyampaikan bahwa total jumlah prajurit yang diperbantukan dari instansinya sebanyak 1.500 personel. ”Untuk pengamanan pengumuman pemilu,” imbuhnya. Sampai pengumuman hasil pemilu oleh KPU tuntas, mereka bertugas di bawah perintah Kodam Jaya. Dia memastikan semua prajurit yang dikerahkan sudah siap bertugas.

Sementara itu, geliat pergerakan massa dari daerah ke Jakarta untuk merespon pengumuman calon presiden dan wakil presiden hasil Pemilu 2019 mendapat respon dari istana. Pemerintah mengimbau agar masyarakat yang sudah berencana berangkat untuk mengurungkan niat tersebut.

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Purnawirawan Moeldoko mengajak masyarakat untuk menggunakan jalur hukum dalam menyikapi hasil pemilu. Dia menilai, jika menggunakan aksi jalanan, Moeldoko menyebut rawan terjadi gesekan yang merugikan sesama anak bangsa. “Karena kondisi itu tidak menguntungkan bagi siapapun,” ujarnya di Kantor KSP, Jakarta, kemarin.

Sebaliknya, lanjut dia, yang diuntungkan adalah kelompok-kelompok tertentu yang sudah memiliki agenda khusus untuk mengacaukau situasi nasional. Moeldoko mengakui, pemerintah sudah mengendus adanya kelompok-kelompok yang berniat menunggangi aksi tersebut. “Ada kelompok teroris, kelompok yang ingin membuat trigger ya, menjadikan martir, sehingga nanti akan menjadi titik awal melakukan anarkis,” imbuhnya.

Oleh karenanya, kata Moeldoko, jajaran kepolisian di daerah aktif melakukan operasi terhadap massa yang bergerak ke Jakarta. Upaya itu ditempuh untuk memastikan kegiatan di 22 Mei besok terhindar dari peristiwa yang tidak diinginkan. “Jangan sampai membawa perlengkapan yang dilarang. Ada yang bawa senjata tajam juga gak ada relevansinya dengan demo,” tuturnya.

Moeldoko menambahkan, isu adanya potensi kelompok penyusup dalam aksi bukanlah isapan jempol atau upaya menakut-nakuti masyarakat. Namun hal itu sudah didasarkan pada informasi yang diperoleh. Polri misalnya, beberapa waktu belakangan sudah menangkap terduga teroris di sejumlah tempat.

Selain itu, intelejen juga telah menangkap upaya penyelundupan senjata yang diduga digunakan untuk mengacaukan situasi. “Bisa saja melakukan menembak pada kerumunan, akhirnya seolah-olah tembakan dari aparat kemananan. Itu menjadi triger berawalnya sebuah kondisi chaos,” pungkasnya. (far/syn/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *