Menelusuri “Sisa-Sisa” Kampung Begal di Lampung

Pedagang Kerupuk Sampai Tidak Berani Masuk

”Masih rawan begal di Lampung?,” tanya seorang pria yang mengetahui Jawa Pos akan pergi ke Lampung.

Obrolan seputar kejahatan begal sepeda motor di Lampung cukup panjang waktu itu. Sampai akhirnya jam keberangkatan pesawat Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Raden Inten II Bandar Lampung yang kami nantikan tiba : pukul 07.35.
HARI itu, Jawa Pos hendak menuju Tulang Bawang Barat.

Kabupaten yang diresmikan 2008 lalu itu berjarak 101 kilometer dari Raden Inten II. Untuk menuju ke sana bisa menumpang bus dengan ongkos Rp 30 ribu. Atau naik travel membayar Rp 200 ribu. Perjalanan via Lintas Sumatera itu menempuh waktu dua-tiga jam dengan kecepatan rata-rata 40-80 kilometer per jam.

Konon, tak ada wilayah di Lampung yang aman dari begal. Kabar itu menyebar getok tular di lingkungan warga setempat. Bahkan, rumor yang berujung stigma ‘Lampung kampung begal’ sampai di Jakarta dan daerah lain di Jawa. Pun, tempat kejadiannya menyebar di seluruh kabupaten. Mulai dari Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tulang Bawang Barat, hingga Mesuji.

Jawa Pos mencoba menelusuri kebenaran kabar itu. Dan salah seorang warga Lampung mengarahkan Jawa Pos pergi ke Tiyuh (Desa) Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Tulang Bawang Barat. Konon, tingkat kerawanan di sana hampir sama dengan Surakarta di Lampung Utara dan Jabung di Lampung Timur. Dua nama desa terakhir itu lebih dulu dicap sebagai kampung begal.

Saat melintas di wilayah Tulang Bawang Barat, jalan rusak menyapa sepanjang perjalanan. Bahkan, di beberapa ruas utama, kondisinya tergolong memprihatinkan. Di salah satu titik di Desa Mulyo Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, misalnya, kerusakan berupa kubangan besar nyaris memenuhi badan jalan.

Begitu pula ketika sampai di teritori Gunung Menanti. Jalan utama di desa yang berbatasan dengan Lampung Tengah dan Lampung Utara itu hanya dibalut aspal tipis. Lebar jalan 2,5 meter, berdebu dan dipenuhi batu-batu kecil sisa material pengerasan jalan. Jembatan sungai Way Terusan selebar lima meter menjadi ‘pintu gerbang’ masuk desa itu.

”Dulu, di jembatan itu sering ada begal,” kata Kepala Tiyuh (Desa) Gunung Menanti Hariyanto saat ditemui Jawa Pos di rumahnya beberapa waktu lalu. Pada Januari 2016 lalu, polisi pernah menggerebek gembong begal di desa tersebut. Yaumin, pimpinan kelompok begal di sana ditembak di bagian kaki saat penangkapan. Dia akhirnya tewas saat dirawat di puskesmas setempat.

Kisah Yaumin adalah satu diantara cerita begal dari Gunung Menanti. Yanto-sapaan akrab Hariyanto- menceritakan, di luar itu banyak lagi cerita tentang begal yang berkeliaran dan ‘bermarkas’ di desanya. Puncaknya, di 2016, begal motor bisa 10 kali dalam sebulan. Hanya, mayoritas tidak dilaporkan ke polisi. Sehingga, hanya jadi cerita sambil lalu.

”Dulu orang jualan kerupuk saja nggak berani masuk (ke Gunung Menanti, Red) karena takut dibegal,” kenang Yanto yang baru menjabat kepala desa pada sejak November 2018 itu. Desa tersebut berpenghuni 2.565 penduduk. Sebagian besar buruh tani menanam singkong. Sebanyak 548 diantaranya dikategorikan miskin. Dan hanya 12 orang yang tercatat lulus pendidikan strata satu dan dua.

Yanto mengakui, kampung kelahirannya itu memang dikenal daerah rawan begal beberapa tahun belakangan. Kejadiannya kebanyakan siang atau menjelang magrib. Modusnya macam-macam. Menghadang korbannya di jalan atau di ladang dengan mengancam menggunakan senjata api (senpi) atau senjata tajam (sajam). ”Kebanyakan (lokasi begal) di ladang,” kata pria 40 tahun itu.

Saat ini, Yanto mengklaim desanya relatif mulai aman. Pelaku-pelaku begal mulai insaf. Sulaiman, salah satunya. Mantan pelaku begal itu sekarang menekuni agama Islam dan jadi guru ngaji di salah satu masjid desa. Selain itu, sebagian lain bekerja di salah satu perusahaan perkebunan tak jauh dari desa tersebut. ”Sekarang pedagang sudah mulai masuk (berjualan keliling desa, Red),” ujarnya.

Perubahan itu, menurut Yanto, tidak ujuk-ujuk. Selama setahun terakhir, pihak desa mengiventarisir para pemuda yang menganggur. Kemudian mencarikan pekerjaan untuk mereka.

Selain itu, mendorong kegiatan religi masyarakat, seperti menghidupkan majelis taklim di seluruh masjid. ”Karena saya yakin tingkat kriminalitas itu karena nganggur,” paparnya.
Yanto punya cita-cita. Yakni, mengajak seluruh pemuda dan kepala desa tetangga berkunjung ke desanya.

Tujuannya, menguatkan jalinan persahabatan antar pemuda agar tak ada lagi gesekan. Dan paling penting, saling menjaga ketika terjadi permasalahan di desa masing-masing. ”Intinya menjalin kekeluargaan dengan tiyuh (desa, Red) lain,” ungkapnya.

Kapolsek Tumijajar AKP Dul Hafid menambahkan, sejak dirinya berdinas di wilayah tersebut pada November tahun lalu, tidak ada laporan tindak kejahatan yang berkaitan dengan Gunung Menanti. Khususnya begal atau kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas). ”Secara umum, tingkat kriminal (di Gunung Menanti, Red) kondusif,” ujarnya ditemui terpisah.

Sejauh ini, Dul Hafid dan jajaran kepolisian instensif datang ke Gunung Menanti dan desa-desa tapal batas lain. Dia juga menyebut institusinya dan pemerintah daerah setempat juga rutin menggelar bakti sosial (baksos) dan mengatur sistem keamanan lingkungan (siskamling). ”Kami ke masjid-masjid, salat dengan masyarakat di sana,” ujarnya.

Semua upaya itu dilakukan untuk membangkitkan semangat warga desa tapal batas agar tidak merasa jauh dari perhatian pemerintah dan aparat. Selain itu, memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat lain. Dan memudarkan stigma bahwa ‘Lampung kampung begal’ yang saat ini telanjur menyebar di kalangan masyarakat luar.

Sementara dari kejauhan, terlihat sekumpulan warga di pos keamanan lingkungan (kamling) yang terbuat dari papan kayu. Sebagian tampak bercengkerama sambil menyeruput kopi. Lainnya duduk bersila sembari menatap ke arah layar televisi tabung yang terpacak di sudut pojok posko bercat putih itu. Sebagian lagi tidur telentang dan berselimut sarung.
Malam itu, Suratman (51) dan Nurhadi (57) beserta kawan-kawan kebagian jatah ronda.

Mereka berkumpul di pos kamling RT 3/RW 4 Tiyuh (Desa) Pulung Kencana, Tulang Bawang Tengah, Tulang Bawang Barat tersebut sejak pukul 22.00. ”Karena banyak maling, jadi harus ronda,” kata Suratman kepada Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Desa yang berjarak sekitar 19 kilometer dari Gunung Menanti itu tak mau kecolongan dengan ulah penjahat. Karena itu, setiap malam, seluruh pos ronda di kampung tersebut tak pernah sepi. Sejak tahun lalu, pos kamling wajib didirikan di setiap RT secara swadaya atas arahan pemerintah desa setempat.

Total ada lebih dari 40 posko keamanan di sana.
Seperti markas militer, setiap pos kamling di Pulung Kencana punya standar operasi prosedur (SOP) yang ketat. Misal, terkait dengan kehadiran, warga yang bolos ronda selama tiga minggu berturut-turut akan disidang di balai tiyuh. Bila terbukti sengaja membolos terancam sanksi sosial yang ditentukan oleh otoritas keamanan desa.

Bukan hanya itu, setiap pos ronda wajib memenuhi kelengkapan peralatan yang ditentukan. Mulai dari kentongan, alat pemadam kebakaran (tradisional/modern), senter, borgol atau tali, jam dinding, televisi, kotak sampah, hingga kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). ”Semuanya pakai iuran warga (untuk beli kelengkapan pos, Red),” timpal Nurhadi.

Insiatif pos kamling itu berawal dari maraknya kasus pencurian, baik dengan kekerasan (curas) atau pemberatan (curat), di kampung tersebut selama beberapa tahun belakangan. Dulu, saban malam ada saja kabar tentang peristiwa kejahatan di kampung yang mayoritas dihuni warga transmigrasi dari Jawa itu. ”Dulu, banyak sekali maling di sini (Pulung Kencana, Red),” ujarnya.

Tapi kini, setelah dibangun banyak pos kamling, tingkat kejahatan perlahan menurun. Sesekali, memang masih ada pencuri yang nekat, namun lantas kepergok warga yang kebetulan melakukan patroli. ”Pernah ada yang mau maling kambing, tapi kabur karena ketahuan. Kambingnya ditinggal,” kenang Nurhadi.

Selain keliling menjaga kampung dari kejahatan, terutama pencurian, kegiatan pos ronda itu juga diselingi dengan mengumpulkan jimpitan beras dari rumah ke rumah. Kegiatan itu dilakukan tiap dua minggu sekali. ”Beras dikumpulkan untuk kegiatan RT, misal diberikan ke warga yang tertimpa musibah atau yang kurang mampu,” imbuh dia.

Warga yang berjaga baru pulang ke rumah pukul 04.00 atau sebelum Subuh. Di saat Ramadan seperti sekarang ini, mereka juga turut membangunkan warga lain untuk santap sahur. ”Yang terpenting, warga di sini (Pulung Kencana, Red) guyub rukun, saling menjaga keamanan dan ketenteraman,” imbuh M. Safwan, warga lainnya. (tyo/JPG)

(tyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *