Gara-gara Medsos, Keluarga Jadi Berantakan

Suparlan, S.Hi, MH (Sulo/Cepos)

MERAUKE- Kasus  keretakan rumah tangga yang  berujung dengan perceraian  saat ini tidak hanya   karena  kurangnya tanggungjawab dari suami dalam keluarga  atau karena  masalah ekonomi, namun   sudah mulai bergeser  karena pengaruh media sosial.

  Humas Pengadilan Agama  Merauke Suparlan, S.Hi, MH, ketika ditemui media ini di ruang kerjanya,  Ranu (15/5) mengungkapkan dari Januari  sampai 15 Mei 2019, total perkara    perceraian yang masuk di daftarkan ke Pengadilan Agama untuk diproses cerai sebanyak 163 perkara.

  ‘’Sampai   saat ini, jumlah gugatan cerai  yang masuk dan diregistrasi  dari Januari sampai  hari ini, 15  Mei 2019 sebanyak 163 perkara,’’ katanya. Sementara     untuk permohonan dispensasi seperti nikah sebanyak  13 perkara, sehingga   total  perkara yang masuk sampai 15 Mi sebanyak 176 perkara.   

  Suparlan menjelaskan, dari gugatan cerai yang   masuk tersebut  tersebut sebagian dipicu karena   suami tidak bertanggung jawab dalam keluarga, sering terjadi  pertengkaran yang  membuat  keluarga  itu tidak harmonis dan memilih   untuk bercerai. Selain itu, juga dipicu oleh faktor    ekonomi, adanya pihak ketiga  sebagian  karena dipicu  media sosial. ‘’Jadi ada  pergeseran   ke  masalah media sosial.    Karena dalam persidangan   kadang percakapan  di media sosial   dijadikan alat bukti   untuk gugat cerai,’’ jelasnya.

     Suparlan   juga menjelaskan bahwa   70 persen dari  gugat cerai  tersebut  dilakukan oleh pihak perempuan atau istri. ‘’Karena sebagian   dari perceraian  itu  tidak dihadiri salah satu pihak  terutama dari  pihak suami yang diceraikan,’’  jelasnya.

   Ditanya  upaya  rujuk kembali dari gugat  cerai yang didaftarkan tersebut, Suparlan mengakui  bahwa sebelum  gugatan  cerai tersebut dilanjutkan  ke  persidangan   pihaknya  selalu berusaha   agar pasangan  tersebut bisa  rujuk kembali. Namun   yang bisa    rujuk,  kata dia  sangat kecil. ‘’Bisa   dikatakan   nol koma sekian begitu. Karena   kemungkinan yang daftar   ke  sini memang sudah bulat  untuk cerai. Sementara   yang masih bisa kita rujuk kembali mungkin  hanya ingin supaya  yang dicerai tersebut bisa berubah setelah  mendapatkan bimbingan dari hakim,’’ terangnya.

   Ditambahkan, kasus perceraian  di Kabupaten  Merauke setiap tahunnya  penunjukan  peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun   2017 lalu, jumlah  gugat cerai yang didaftarkan sebanyak 460  perkara, kemudian tahun 2018 sebanyak 476 kasus. ‘’Dan sekarang dalam kurun waktu 5  bulan, sudah tercatat 163    perkara yang didaftarkan,’’    tambahnya. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *