Distrik Bugi dan Wolo Dilanda Banjir dan Longsor

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua SE, MSi saat memberikan bantuan kepada warga di Distrik Bugi, Jumat (12/4).(Denny/ Cepos)

WAMENA-Ratusan warga di dua distrik, yakni Bugi dan Wolo diterjang longsoran dan banjir  air yang turun dari atas gunung. Dalam musibah tersebut tak ada korban jiwa, namun Pemda Jayawijaya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jayawijaya langsung turun meninjau lokasi para korban yang dipimpin langsung Bupati Jayawijaya.

   Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengungkapkan bahwa  bencana longsor dan abrasi di Distrik Wolo dan Bugi terjadi  4 hari lalu dan   kemarin kepala distrik baru melaporkan masalah ini kepada pemerintah daerah. Karena itu, ia langsung memanggil Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jayawijaya untuk melihat masalah ini.

  “Saya sudah memanggil kepala BPBD untuk menyiapkan logistik dan kita langsung antar sendiri, kita lihat lokasi ini cukup rawan karena kami takut  seperti kejadian di tempat lain,” ungkapnya, Jumat (12/4) kemarin.

   Untuk itu, Bupati mengimbau kepada masyarakat yang berdomisili di lereng gunung, apabila hujan deras lebih baik mengungsi ke tempat yang aman dulu, mencegah kemungkinan –kemungkinan yang membahayakan masyarakat,

  “Jumlah warga yang terkena dampak bencana alam ini ada 191 warga di Distrik Bugi, sehingga pemerintah memberikan bantuan pangan agar mereka bisa bertahan sementara waktu untuk kembali membuat kebun,”bebernya.

  Untuk rumah atau honay yang mengalami kerusakan itu tidak ada. Hanya saja masyarakat kehilangan kebun dan peralatan perkebunan yang tertimpa longsoran material tanah yang dibawa air dari atas gunung sehingga ini perlu diwaspadai oleh masyarakat.

  “Jadi pada saat mereka bekerja, tiba-tiba terjadi longsoran, namun tak ada korban jiwa, hanya mereka menyelamatkan diri dan meninggalkan peralatan perkebunannya yang tertimbun lengsoran,”kata Banua

  Bupati menilai, kurangnya pepohonan di atas gunung tidak pengaruhi terjadinya lengsoran. Hanya saja ada celah gunung, yang merupakan aliran air yang mengeluarkan material tanah ketika turun hujan, ada beberapa  tempat seperti ini seperti dahulu di Distrik Asotipo itu hanya kecil tetapi sekarang sudah menjadi sangat besar.

“Hujan sedikit saja material pasir dan tanah pasti turun, ini yang kita takutkan jangan sampai terjadi seperti ini,”bebernya.

  Secara terpisah kepala Distrik Bugi Yosias Togodli, mengatakan untuk relokasi rumah warga dari lereng gunung , pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan kepala–kepala kampung untuk memberikan lahan kosong sebagai tempat dekat dengan kantor kampung untuk pemukiman masyarakat.

  “Kami akan menindaklanjuti perintah dari Bupati untuk memindahkan masyarakat dari lereng gunung yang sering menjadi korban bencana alam,”tuturnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *