AJI: Dalam Pemilu, Jurnalis Tak Boleh Berpihak!

JAYAPURA- Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jayapura, Lucky Ireeuw, tak menampik bahwa masih adanya kecenderungan jurnalis di Papua yang menyalahgunakan profesi sebagai jurnalis untuk menempatkan diri dan berpihak, bahkan menjadi tim sukses terhadap peserta Pemilu tertentu, baik pada Pilkada yang lalu, Pemilihan Legislatif, maupun Pemilihan Presiden saat ini.

Menurut Ireeuw, sekalipun kecenderungan itu ada karena godaan dan kepentingan tertentu, tak semua jurnalis demikian. Bukan apa, sebab, seperti diektahui, pesta demokrasi memang sangat rawan karena banyak terkandung kepentingan di dalamnya, entah kepentingan dari partai politik, calon legislatif, hingga capres-cawapres.

“Jurnalis juga merupakan salah satu bagian dari proses demokrasi yang tengah berjalan ini. Kecenderungan itu ada, meskipun tidak semua. Sayang sekali jikalau kemudian jurnalis tak bisa menempatkan dirinya dalam tugas peliputan yang dilakukan dengan tetap mengacu pada Undang-Undang Pers maupun Kode Etik Jurnalistik, seperti halnya tidak boleh memihak, membawa kepentingan pribadi maupun golongan dalam liputan dan karya hasil liputannya itu,” terang Lucky Ireeuw kepada Cenderawasih Pos, Selasa (9/4) lalu.

Dikatakannya bahwa memang seorang yang berprofesi jurnalis diberikan hak politik untuk memilih. Namun, hak pilih itu merupakan hak politik pribadi, sehingga tak boleh dikaitkan dengan tugas dan tanggung jawab jurnalistik dalam mengemban profesi jurnalis.

“Hak politik untuk memilih itu terlepas dari profesi kita sebagai jurnalis. Kita akan memilih, tapi itu pilihan politik pribadi, sehingga tidak boleh dicampur-adukkan dengan tugas dan tanggung jawab dalam profesi sebagai jurnalis. Apalagi kalau sampai menggunakan profesi jurnalis menjadi tim sukses peserta Pemilu, yang mana itu sama saja dengan mencederai profesionalisme sebagai jurnalis,” jelasnya.

Pada dasarnya, profesi jurnalis pun memiliki aturan, dalam hal ini kaitannya pula dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers yang menjadi rambu-rambu, baik dalam tugas peliputan di lapangan maupun karya jurnalistik yang dihasilkan.

“Kita harus menghargai profesi sebagai jurnalis. Pun, selama kita masih mengemban tugas dan tanggung jawab dalam profesi jurnalis, maka harus terus pula berpegang pada Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sehingga tidak boleh tergoda dan terpengaruh,” tegasnya mengakhiri. (gr/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *