Di Keerom, 55 Ekor Sapi Mati Diduga Terserang Diare Ganas

Salah satu ternak sapi yang kurus akibat terserang penyakit diare ganas.

JAYAPURA-Sebanyak 55 ekor sapi milik warga di Kabupaten Keerom dilaporkan mati karena mengalami sakit. Kematian sejumlah ternak sapi ini, kontan membuat resah masyarakat, apalagi beredar kabar di media sosial bahwa kematian ternak ini mencapai ratusan ekor.

Dokter Hewan dr Siti Asturi yang menangani kasus tersebut menegaskan bahwa penyampaian berita di sosial media bahwa yang mati sebanyak 500 ekor, itu tidak benar. “Dari data yang ada ke dinas yang kami tahu sampai hari ini ada 55 ekor sapi, tidak benar kalau sampai 500 ekor,” ungkap dr Siti kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Peristiwa ini, lanjut dr Siti Asturi, terjadi sejak awal Januari dan Februari di wilayah Skamto Arso IV dan III. Dimana sapi satu persatu mati, dan mulai menjalar ke daerah lain di Arso II dan darah lainnya. Namun jumlahnya tidak sampai atu mulai pinda di daerah arso dua dan lainnya.

Dari kejadian matinya ternak sapi di Arso IV, sebenarnya pihaknya sudah langsung menyampaikan ke Balai Besar Veteriner Maros, dimana Kepala Balai langsung turun dan melakukan investigasi kejadian dan pihaknya masih tunggu hasil pemeriksaan laboratoriumnya. “Jadi kami belum diagnosa karena hasil tes sampel belum diketahui hasilnya, tapi tadi diagnosa kami dari kasat mata hanya diare ganas,” tegasnya.

Di singgung soal adanya dampak kepada masyarakat, dia mengatakan penyakit tersebut tidak sonosis atau berpindah kepada manusia.”Dia bukan sonosis jadi tidak potensi ke warga, jadi pengobatan kami memberikan vitamin dan antibiotik dan kami minta kepada masyarakat untuk berikan jamu tradisional seperi gula merah ditambah daun jamu dan kunyit yang ditumbuk dicampur gula dan air dan diminumkan,” katanya.

Selain itu, peternak juga diminta untuk masyarakat bisa memperhatikan pola makan minum dan waktu buang air ternak sapinya seperti apa. “Jika ada penyakit bisa dibuat air gula dan garam dan panggil petugas setempat dari dinas, kami juga memberikan vitamin,” tegasnya.

Sementara itu, di tempat terpisah Kepala Seksi Kesehatan Hewan Masyarakat dan Veteriner Dinas Pertanian dan Perikanan Ronal Kapisa mengatakan bahwa tidak bisa mengutamakan pemberian pakan ternak saja kepada masyarakat, tetapi harus juga disediakan obat bagi hewan.

“Harus ada obat untuk pencegahan penyakit dan anggaranya harus disiapkan, tapi ini tidak di sediakan dananya, maka sekarang kita bingung mau ambil obat dari provinsi karena kita tidak siapkan,” katanya. (oel/tri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *