Demi Rp 1 Miliar, Jerat Ribuan Orang Jadi TKI Ilegal

JAKARTA-Kasus perdagangan orang dengan kedok pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) makin liar. Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim mengungkap empat jaringan pengiriman TKI ilegal. Demi keuntungan Rp 1 miliar per tahun, mereka menjerat ribuan orang untuk menjadi TKI ilegal. Caranya, dipancing dengan memberikan fee ke keluarga dan membiayai transportasi serta dokumen pengiriman.

Direktur Dittipidum Bareskrim Brigjen Herry Rudolf Nahak mengatakan, modus menjerat korbannya hampir sama, rata-rata diawali dengan iming-iming gaji Rp 4 – Rp 5 juta per bulan. Lalu, biaya pemberangkatan ditanggung oleh jaringan tersebut. ”Ini yang membuat terlena,” ujarnya.

Bahkan, untuk semakin menyulitkan para korban, jaringan itu memberikan fee kepada keluarga yang ditinggal bekerja Rp 4 juta. Semua itu demi bisa membuat korban berangkat ke luar negeri. ”Saat di luar negeri, yang awalnya dijanjikan pergi ke Arab Saudi malah dikirim ke Suriah,” jelasnya.

Saat para korban menolak bekerja karena mendapat pelecehan seksual dan sebagainya, agen meminta para korban untuk membayar ganti rugi biaya yang dikeluarkan selama ini. Dari transportasi hingga fee ke keluarga. ”Disini kunci jebakan itu,” paparnya.

Empat jaringan TKI ilegal itu yakni, jaringan Tukri, jaringan Maroko, jaringan Suriah dan jaringan Arab Saudi. Ada Sembilan tersangka dalam empat jaringan tersebut, yakni Abdalla Ibrahim, Faisal Hussein, Neneng Susilawati, Mutiara Binti Abas, Farhan Abuyarman, Erna Rachmawati, Sholeha dan M. Abdul Halim. ”Yang unik itu Abdalla dan Faisal,” terangnya.

Keduanya merupakan warga negara Ethiopia yang bermigrasi ke Indonesia. Mereka mendapat perlindungan dari UNHCR hingga tidak dideportasi. Namun, justru melakukan kejahatan perdagangan orang. ”Dia dibantu seorang wanita asal Indonesia bernama Neneng,” paparnya.

Jumlah korban dari empat jaringan tersebut mencapai 1.080 orang. Herry mengatakan, untuk jaringan Arab Saudi telah mengirim 600 orang, jaringan Suriah telah mengirim 300 orang, lalu jaringan Turki telah mengirim 210 orang dan jaringan Maroko mengirim 500 orang. ”Total 1.610 orang yang dikirim keempat jaringan,” ujarnya.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menambahkan bahwa keuntungan dari jaringan tersebut cukup fantastis. Untuk jaringan Maroko dalam setahun memiliki pendapatan Rp 1 miliar per tahun, jaringan Suriah pendapatannya Rp 900 juta per tahun. ”Lalu jaringan Turki dan Arab Saudi pendapatannya sama, Rp 700 juta tiap tahun,”terangnya.

Jumlah korban yang mencapai lebih dari 1.610 orang itu merupakan jumlah terbesar selama ini. Baru kali ini Bareskrim menangani kasus dengan korban sebanyak ini. ”Sebelumnya hanya ratusan,” jelasnya.

Herry menuturkan, kemungkinan untuk menerapkan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap empat jaringan tersebut sangat besar. Bila uang hasil kejahatan ini menjadi aset atau disimpan di Indonesia, tentunya akan bisa disita untuk negara. ”Mungkin saja bisnisnya dikembangkan ke bisnis lain,” paparnya. (idr/JPG)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *