Sejak SMP Ingin Jadi Dokter, Ajak Generasi Muda Manfaatkan Kesempatan dan Peluang

dr. Apter Eriskus Patai, Sp.OG (K)

dr. Apter Eriskus Patai, SpOG(K) OAP Pertama yang Raih Gelar Konsultan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi

Sejak 23 Maret 2019, dr. Apter Eriskus Patai, SpOG(K) menjadi OAP (Orang Asli Papua) pertama yang meraih gelar Konsultan Fertilitas Endoktrin dan Reproduksi. Bagaimana perjalanannya gelar tersebut ?

Laporan: Yohana, Jayapura

MENJADI seorang dokter sudah menjadi tekad  dr. Apter Eriskus Patai, SpOG(K) saat masih duduk di bangku SMP.

Keinginannya untuk menjadi seorang dokter bermula saat Tete (Kakek) yang sangat ia sayangi menderita sakit. Saat itu,  Apter Patai berjuang untuk merawat kakek.

Ia kemudian mempelajari buku-buku tentang ramuan agar bisa membantu mengobati kakeknya. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain dan kakeknya harus meninggalkan Apter Patai untuk selamanya.

Kepergian sang kakek tidak membuat Apter patai larut dalam kesedihan. Namun tekadnya menjadi seorang dokter semakin kuat. “Sejak saat itu tekad saya untuk menjadi dokter sudah saya tanamkan dalam diri saya. Saya percaya dengan ilmu yang saya peroleh, pastinya bisa membantu masyarakat Papua,” ucap dr. Apter Eriskus Patai, SpOG(K) saat berbincang-bincang dengan Cenderawasih Pos di gedung Graha Pena Papua, Senin (8/4).

Dengan tekad yang kuat menjadi dokter, Apter Patai akhirnya bisa melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada tahun 1988.

Setelah menyelesaikan studinya dan berhak menyandang gelar dokter umum, Apter Patai pada tahun 2000 kembali ke Papua dan bertugas di Wamena, Kabupaten Jayawijaya selama 8 bulan.

“Saat itu, terjadi peristiwa Wamena berdarah dan saya satu-satunya dokter yang bertahan di sana selama dua minggu,” ucap Apter Patai yang saat ini menjabat sebagai Kepala SMF Obgyn RSU Jayapura.

Tahun 2002, Apter Patai dikirim untuk melanjutkan pendidikan dokter ahli. Anak pensiunan guru ini, kembali ke almamaternya UGM Yogyakarta untuk mengambil gelar Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan).

Selama menempuh pendidikan dokter spesialis, Apter Patai sama sekali tidak mendapat biaya dari pemerintah daerah. Ia justru dibantu oleh salah seorang pengusaha di Jakarta. “Setelah lulus tahun 2006, pada tahun 2007 saya bertugas di RSU Jayapura,” tuturnya.

Setelah menjalankan tugas sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan di RSU Jayapura, Apter Patai yang bulan ini genap berusia 50 tahun, kembali mengambil sub-spesialisasinya tahun 2014.

Tidak tanggung-tanggung, ia berani mengambil jurusan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi  yang merupakan jurusan paling sulit sehingga waktu pendidikannyua juga membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Konsultan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi merupakan satu jurusan tingkatan akhir dari dunia pendidikan kedokteran, yang mana jurusan tersebut  paling tinggi dan tidak ada lagi pendidikan yang lebih tinggi selain pendidikan sub spesialis dengan jurusan Konsultan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi,” jelasnya.

Tentunya tidak semua dokter bisa mencapai gelar tersebut dan Apter Patai termasuk salah satu dokter yang mampu meraih gelar tersebut. Bahkan ia menjadi orang Papua pertama yang meraih gelar Konsultan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi dimana gelar tersebut diraihnya baru-baru ini tepatnya tanggal 23 Maret 2019.

Dirinya memilih program keahlian Konsultan Fertilitas Endokrin dan Reproduksi, karena baginya program tersebut sangat langka dan khusus di Papua belum ada fasilitas yang dapat menopang pelayanan tersebut. “Sementara di Papua banyak kasus yang sering terjadi di masyarakat apa lagi dalam kehidupan berkeluarga,” tuturnya.

Dengan keberhasilannya ini, Apter Patai berharap putra/putri Papua khususnya yang saat ini menempuh pendidikan kedokteran atau sudah menjadi seorang dokter, tidak boleh puas apabila hanya menjadi dokter umum.

“Kalau bisa terus belajar dan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena dengan pendidikan kita mampu merubah hidup. Bukan hanya untuk ilmu kedokteran saja tetapi untuk semua jurusan yang ada di setiap bangku kuliah masing-masing,” pintanya.

Diakuinya dalam menempuh pendidikan tentunya tidak mudah. Selain membutuhkan kerja keras, kesabaran, ketekunan dan motivasi yang tinggi, dunia pendidikan juga tidak lepas dari masalah biaya. Namun ia meminta generasi muda agar sebisa mungkin memanfaatkan kesempatan dan peluang yang ada, mengingat di era moderen saat ini semua fasilitas dan sarana prasarana semakin mempermudah untuk mendapatkan ilmu.

“Tinggal bagaimana diri kita untuk mengatasi hal tersebut. Kalau saya yang punya ayah seorang pensiunan guru saja bisa menjadi dokter spesalis, berarti kita semua bisa mengejar masa depan kita untuk membantu banyak orang,” tambahnya.

Selama 12 tahun bertugas di RSU Jayapura, Apter Patai yang juga memiliki keahlian lain seperti Hipnoemesis (Hamil Muda) Hipno Fertility dan Hipnoterapi, telah banyak membantu masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *