BI Proyeksikan Ekonomi Papua dari Tambang Tumbuh Negatif

Kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) dan Kajian Fiskal Regional (KFR) Provinsi Papua di Hotel Aston Jayapura, Senin (8/4) kemarin.Yohana/Cepos

JAYAPURA – Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini merupakan salah satu kerja sama yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Dirjen Perbendaharaan Provinsi Papua. Berdasarkan kajian tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan  kondisi perekonomian di Papua tahun 2019 akan tumbuh negatif.

Kepala Perwakilan Bank Indonesaia, Joko Supratikto mengatakan, kinerja perekonomian Papua pada triwulan IV tahun 2018 menurun jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Papua pada triwulan IV 2018 terkontraksi sebesar -17,80 persen, menurun jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,35 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Papua pada tahun 2018 mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi sebesar 7,33 persen. Lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang tumbuh sebesar 4,64 persen. Memasuki triwulan I tahun  2019,  pertumbuhan ekonomi Papua diperkirakan akan mengalami kontraksi, namun tidak sedalam kontraksi yang terjadi pada triwulan IV tahun 2018,” kata Joko kepada Cenderawasih Pos, Senin (8/4) kemarin.

Diakuinya, dari sisi pengeluaran perlambatan ekonomi disebabkan oleh normalisasi permintaan pasca berakhirnya periode hari besar keagamaan. Juga ditengarai penurunan kinerja pertambangan akan menyebabkan perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh mulai habisnya cadangan biji tembaga di tambang terbuka Grasberg. Sementara tambang bawah tanah masih belum optimal berproduksi.

“Dengan proses peralihan tambag terbuka ke tambang bawah tanah kami proyeksikan kondisi ekonomi Papua tahun ini akan tumbuh negatif yaitu -5 persen sampai  -5,4 persen. Ini perupakan pertumbuhan ekonomi secara total, tetapi jika kita keluarkan tambangnya kami optimis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen. Jadi secara makro masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan,” ungkapnya.

Lanjutnya, jika dilihat dari sisi kesejahteraan, tenaga kerja dan lain-lain di Papua sendiri tingkat pengangguran lebih rendah daripada nasional, tetapi tingkat kemiskinan masih cukup tinggi, meskipun sudah berkurang dan hal ini juga menjadi perhatian bersama. (ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *