Sang Pemburu Burung Cenderawasih yang Insaf

Bambang Birawa.  Elfira/Cepos

JAYAPURA- Bambang Birawa, pemuda 29 tahun asal Kampung Guriyad, Distrik Urum Guay, Kabupaten Jayapura memilih insaf setelah membunuh ratusan burung cenderwasih betina ataupun jantan di kampung dimana ia lahir dan dibesarkan.

Lelaki lulusan sarjana Ilmu Teknik itu berburu cenderawasih sejak tahun 2007 setelah tamat SMA, insaf dengan tidak lagi berburu burung cenderawasih pada awal tahun 2018.

Menurut Bambang, alasan dirinya membunuh burung cenderawasih dengan cara menembaknya lalu kemudian memasarkannya ke orang-orang merupakan cara mudah untuk mendapatkan uang. Uang untuk membiayai kuliahnya yang per semester ia harus menyetor ke kampus Rp 4 jutaan dan untuk membiayai ibunya yang sudah hidup menjanda.

Lambat laun Bambang sadar bahwa apa yang ia lakukan itu salah besar. Kesadaran Bambang semakin memuncak ketika ia berkunjung ke lokasi ekowisata milik Alex Wamsior yang berlokasi di Nimbokrang.

“Saya tak lagi memburu burung cenderawasih sejak awal tahun 2018. Saya tertarik ketika mengikuti LSM berkunjung ke lokasi wisata milik Alex Wamsior di Nimbokrang. Dalam kunjungan tersebut, saya tergugah dan berkeinginan untuk menjadikan tempat saya sebagai lokasi wisata seperti pak Alex,”tuturnya.

Menurut Bambang, di kampungnya yang ditempuh dengan jarak waktu 3 jam dari pusat kota itu terdapat beberapa jenis burung cenderawasih yang bisa dilestarikan. Bahkan, semua jenis burung cenderawasih bisa ditemukan seperti burung cenderawasih raja, antena 12 dan cenderawasih umum.

Kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (6/4). Bambang mengaku menyesal telah membunuh ratusan burung cenderawasih. “Ratusan burung surga itu saya bunuh dengan menggunakan senapan yang saya beli, sungguh saya benar-benar menyesal. Tapi mau bagaimana lagi, cara mudah mendapatkan uang saat itu hanya dengan berburu Cenderawasih. Namun itu salah besar,” curhatnya.

Bambang mengajak semua pihak untuk melestarikan burung cenderawasih, yang ia ketahui, uniknya Papua itu seperti uniknya burung cenderawasih ketika dipantau dari ketinggian.

Saat berburu burung cenderawasih, Bambang mengaku harus masuk hutan sebulan sekali atau 6 bulan sekali saat ia libur kuliah. Sekali masuk hutan, Bambang bisa mendapatkan 10 ekor burung cenderawasih yang telah ia bunuh dengan menggunakan senapan miliknya.

Selain menembak mati cenderawasih, ada juga cenderawasih hidup. Tergantung permintaan pembeli. Terkait dengan harga, ia menawarkan Rp 400 ribu untuk burung cenderawasih yang diawetkan dan Rp 2 hingga Rp 3 juta untuk burung cenderawasih hidup.

“Burung cenderawasih hidup yang pesan paling banyak pejabat daerah, mungkin sebagai peliharaan. Namun, untuk cenderawasih yang diawetkan pesanan orang-orang di Hamadi,” pungkasnya. (fia/nat)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *