Perseru Alami Kesulitan Keuangan

Pemain Perseru Serui usai menghadapi Persipura Jayapura pada Liga 1 musim 2018 di Stadion Mandala Jayapura.(Erik / Cepos)

JAYAPURA-Manajemen Perseru Serui mengakui saat ini sedang melakukan negosiasi dengan salah satu pengusaha asal Lampung untuk mengakuisisi saham klub yang bermarkas di Stadion Marora Serui itu.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perseru Serui, Tony Tesar saat ditemui di Kantor Gubernur, Jumat (5/4). Pria yang juga menjabat sebagai Bupati Kepulauan Yapen ini mengatakan, menjual klub sebenarnya cuma salah satu opsi yang terbaik untuk menyelamatkan Perseru dari krisis keuangan.

Pilihan lain adalah manajemen sudah berusaha membangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Papua untuk membantu Perseru agar mendapatkan sponsor dari PT. Freeport Indonesia. Namun, usaha manajemen sampai saat ini belum menemui titik terang.

“Kami sudah berusaha melobi PT. Freeport, tapi selalu ditolak dan
juga antusias masyarakat untuk datang ke stadion sangat terbatas
ini juga alasan sponsor kurang menarik untuk mendukung klub yang ada di Papua,” ungkapnya.

Ia juga mengaku, keputusan ini seusai dengan rapat pengurus Perseru, untuk membahas krisis keuangan ini, dan sebagai selaku ketua umum dirinya harus mengambil keputusan yang terbaik.

“Klub membutuhkan suntikan dana segar untuk membantu biaya operasional tim dan pembayaran gaji pemain, tetapi pendapatan kita dari setiap laga home kecil dan klub dilarang menggunakan dana APBD untuk klub profesional,” ujarnya.

Selain itu, alasan sponsor tidak begitu melirik Perseru dalam beberapa
musim belakangan. Sokongan sponsor lokal seperti Bank Papua yang mau mengucurkan dana hanya Rp 1.5 milyar untuk satu musim kompetisi.

“Bank Papua yang besarnya tidak seberapa, sementara untuk Persipura Jayapura mendapatkan dukungan yang sangat besar dari bank milik rakyat Papua ini,” ujarnya.

Namun diakuinya, prestasi dan dukungan masyarakat kepada tim Persipura Jayapura yang begitu luar biasa, sehingga bank Papua dan Freeprot menggelontorkan anggaran yang besar kepada Persipura.

Alasan lainnya, kata Tony Tesar, tahun ini Pemerintah akan melakukan renovasi Stadion Marora Serui untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, Tahun 2020. Dengan demikian, Perseru akan mencari stadion lain di luar Papua untuk menjamu klub lain.

“Kalau kita home base di luar Papua, maka financial yang diperlukan sangat besar, sepeti sewa stadion, hotel dan lainnya, tentu kita tak sanggup, tetapi kami akan berupa agar Perseru tetap eksis baik di liga 1 maupun liga 2. Yang penting Perseru harus tetap ada,” tandasnya.

Dirinya juga menambahkan, bahwa proses negosiasi akuisisi saham dengan salah satu pengusaha di Lampung masih berjalan alot. Pasalnya, manajemen menawarkan pembagian saham 51 atau 49 persen.

“Tahap negosiasi masih berjalan, harapan kita akhir bulan ini sudah
ada keputusan. Kita kasih waktu sampai akhir bulan ini, kita tawarkan opsi 51 persen kalau dia mau ambil 100 persen saham kita akan lepas semua,”tandasnya. (eri/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *