Lima Bulan Anak-anak di Sawendui Tak Belajar

TIDAK SEKOLAH: Murid SDN Aisau Kelas Jauh Sawendui saat berada di depan sekolah mereka yang hampir roboh, Sabtu (6/4) lalu. Anak-anak ini sudah 5 bulan tidak bersekolah lantaran tidak ada guru. Elfira/Cepos

Tak Ada Guru dan Sekolah Hampir Roboh

JAYAPURA-Tidak hanya kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Aisau Kelas Jauh Sawendui, yang hampir roboh, namun 30 anak yang sudah bersekolah di Kampung Sawendui, Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, sudah 5 bulan terakhir tidak lagi mendapatkan mata pelajaran dari guru mereka.

Kendati gedung sekolah yang dibangun sejak 10 tahun terakhir itu, dalam kondisi tertutup dan tidak ada guru, namun anak-anak usia sekolah di kampung tersebut tetap setia ke sekolah, meskipun mereka sekedar bermain di halaman sekolah demi mengobati rasa rindu untuk belajar.

Kepala Kampung Sawendui, Absalom Kurano menyebutkan, guru di SDN Aisau Kelas Jauh Sawendui terdiri dari satu guru berstatus ASN (Aparatur Sipil Negera) dan dua guru kontrak. Ketiga guru tersebut menurut Apsalom sudah meninggalkan sekolah sejak Desember 2018.

Apsalom menyebutkan, para guru ini meninggalkan sekolah setelah dirinya menyerahkan uang sebesar Rp 5 juta untuk kebutuhan perlengkapan sekolah. “Saya juga bingung kenapa merek tiba-tiba pergi, padahal bapak sering berikan bantuan dari dana kampung untuk biaya sekolah,” ucap Absalom kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (6/4).

Terkait kosongnya tenaga guru, Absalom mengaku sudah menghadap ke Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Yapen. Namun, hingga saat ini apa yang menjadi keluhannya itu belum direspon oleh instansi terkait.

Untuk menyikapi tidak adanya tenaga guru, sebagai kepala kampung Absalom mengupayakan agar masyarakat setempat dapat mengajar 30 anak tersebut. Namun, tenaga pengajar yang dipercayakan itu kini masih menyelesaikan studinya di Kabupaten Biak Numfor.

“Ketika tak ada guru di sekolah, aktivitas anak-anak sebatas mondar-mandiri, main dan mandi di laut. Saya juga bingung mau mengajar mereka,” tuturnya.

Ia menaruh harap adanya tenaga guru di kampung halamannya. Bahkan jika ada guru yang betah tinggal di kampung Sawendui, akan dibangunkan rumah untuk para guru.

Sementara itu, Alvius Valentine (13) salah seorang murid kelas IV merasa sedih lantaran lima bulan tak lagi mendapatkan materi pelajaran dari guru yang telah mengajari mereka selama ini.

Lantaran tak ada guru, Alvius yang bercita-cita menjadi pendeta ini merasa sedih. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa, sebab di Kampungnya hanya ada 1 sekolah. Kalaupun mau sekolah ke daerah lain, maka ia harus menyeberang lautan dengan jarak tempuh sekira 2 jam.

“Selama tidak ada guru saya belajar di rumah dan main saja. Saya rindu belajar di ruang sekolah bersama teman saya lainnya,” ucapnya..

Di tempat yang sama, orang tua murid Demianus Korano (53) merasa sedih dengan kondisi sekolah. Ia bahkan kesal, lantaran anaknya bisa tertinggal dari anak di daerah lainnya lantaran faktor usia.

Sebenarnya, di kampung sebelah kata Demianus ada sekolah. Hanya saja itu ditempuh dengan jarak sekira 2 jam dan kadang musim gelombang, sehingga dirinya merasa khawatir. “Saya harap harus ada guru tetap di kampung kami,” pintanya. (fia/nat)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *