Minta Maaf, Ratna Cium Tangan Amien Rais

JAKARTA-Sidang lanjutan atau yang kali ketujuh kasus berita bohong Ratna Sarumpaet tampak berbeda kemarin (4/4). Kali ini, Amien Rais, dewan pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) di ruang sidang utama Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Saksi lainnya juga diajukan JPU untuk mendukung dakwaan. Misalnya, Andika, Yudi Andrian, dan Eman Suherman yang mengawal unjuk rasa di depan Mapolda Metro Jaya.

Dalam kesaksiannya, Amien mengakui bahwa dirinya mengenal Ratna sejak 1998. ’’Ya, saya kenal sudah lama, dia sebagai aktivis,’’ tuturnya.

Mengenai kronologi kebohongan Ratna, Amien menceritakan bahwa pada Selasa pagi (2/10), dirinya melihat berita di portal berita online mengenai penganiayaan yang dialami Ratna. Dia juga melihat berita di YouTube. Kemudian, Amien memerintah asistennya menghubungi Prabowo Subianto untuk menjenguknya. Siangnya, Amien pergi ke Nusantara Polo Club, Bogor, Jawa Barat, untuk bertemu dengan Prabowo dan tim BPN Prabowo-Sandi seperti Nanik S. Deyang, Said Iqbal, dan Fadli Zon.

Amien tiba di lokasi sekira  pukul 15.00. Ternyata, Ratna tiba lebih dulu. ’’Pas saya datang, langsung dipersilakan masuk karena Ratna sudah datang,’’ katanya.

Dia melihat Ratna dalam keadaan tertekan. Amien melihat wajah Ratna ditutupi kain. Tidak lama, Prabowo datang, lalu menghampiri Ratna dan Amien. ’’Pas Pak Prabowo datang, saya dan beliau mencoba menanyakan kepada Ratna apa yang terjadi pada dirinya,’’ ungkapnya.

Ratna mengaku mengalami penganiayaan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Penganiayaan dilakukan dua laki-laki yang tidak dikenal. Atas pengakuan tersebut, Amien menjelaskan bahwa tim BPN yang diwakili Prabowo berinisiatif menggelar jumpa pers dan mengangkat kasus itu ke publik. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan proses hukum yang adil dan transparan.

Selain itu, Ratna merupakan bagian tim pemenangan Prabowo-Sandi. Mereka ingin memberikan dukungan moral. ’’Sebab, yang bersangkutan kan salah satu tim pemenangan kampanye. Maka, kami memberikan bantuan,’’ lanjutnya.

Pada pukul 20.42 di hari yang sama, Prabowo dengan didampingi Amien dan tim pemenangan mengadakan jumpa pers. ’’Ya, malamnya saya mendampingi Pak Prabowo dan rekan-rekan lainnya mengadakan jumpa pers di Kertanegara, Jakarta Selatan,’’ ungkap ketua Dewan Kehormatan PAN tersebut.

Esoknya, Rabu (3/10), Amien membaca berita bahwa pihak kepolisian membeberkan kejadian yang menimpa Ratna. Ternyata, Ratna tidak mengalami penganiayaan, tetapi melakukan operasi bedah plastik, sedot lemak, di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Mengetahui Ratna berbohong, Amien bertemu dengan Prabowo di Lapangan Polo Nusantara. Sebelum itu, dia meminta rekan-rekannya menjenguk Ratna. Namun, Amien mendapat kabar bahwa Ratna telah meminta maaf karena telah membohongi semuanya.

Ratna melakukan jumpa pers terkait dengan kebohongannya. Masih pada hari yang sama, Prabowo, Amien, serta tim pemenangan juga melakukan jumpa pers. ’’Ya, Pak Prabowo meminta maaf ke publik atas kejadian tersebut,’’ jelas Amien.

Dia mengaku shock dan kecewa atas perbuatan Ratna. Bukan hanya itu, Amien juga merasa dirugikan karena telah menyampaikan kebohongan Ratna. Karena itu, dia meminta maaf.

Amien memiliki teori yang membuat Ratna berbohong. Yakni, seperti ada kekuatan spiritual atau penyebab lain yang membuat Ratna berpikiran tidak logis dan sebagainya. ’’Itu salah satu teori saya terkait kejadian tersebut,’’ ungkapnya.

Setelah memberikan kesaksian, Amien dihampiri Ratna. Dia mencium tangan Amien dan meminta maaf. ’’Saya minta maaf, Pak Amien. Seperti yang Pak Amien sampaikan, what’s really going on itu masih jadi pertanyaan atas diri saya,’’ kata Ratna sambil menahan air mata.

Sidang pun dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dari pihak kepolisian yang mengamankan demonstrasi di depan Mapolda Metro Jaya pada Rabu (3/10). Andika dan Yudi Andrian yang melakukan pengamanan demonstrasi bersaksi. ’’Ya, saat itu, ada demo di depan Mapolda Metro Jaya yang meminta pengusutan pelaku penganiayaan terhadap Ratna,’’ ucap Andika.

Demo itu dilakukan Aliansi Lentera Muda Nusantara. Pendemo diperkirakan hanya 20 orang. Mereka membawa spanduk yang berisi tuntutan kepada Polri untuk mengusut dan menangkap penganiaya Ratna.

Empat perwakilan pendemo dipersilakan masuk untuk bertemu dengan pimpinan Andika dan Yudi. ’’Saya kurang tahu siapa yang diperbolehkan masuk untuk bertemu dengan pimpinan saya,’’ ucap Yudi.

Demo tersebut berlangsung kondusif. Tidak ada kericuhan. Hanya, arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto tersendat karena aksi tersebut.

Sementara itu, Eman Suherman, petugas Intel Polsek Kebayoran Baru, menyebutkan bahwa demo itu tidak mengantongi izin. ’’Jadi, pihak kami tidak mendapatkan pemberitahuan bahwa akan ada unjuk rasa,’’ jelasnya.

Namun, dia hanya mendapatkan perintah dari atasan untuk mengamankan pengumpulan massa di sekitar Al Azhar. Jadi, Eman yang tengah berjaga di Al Azhar menuju Mapolda Metro Jaya untuk melakukan pengamanan.

Ketua majelis hakim Joni memerintah JPU mempersiapkan saksi dalam sidang selanjutnya. ’’Sidang ditunda dan akan dilanjutkan pada 9 April dengan agenda yang sama, pemeriksaan saksi,’’ katanya.

Sementara itu, Insak Nasruddin, penasihat hukum Ratna, menjelaskan bahwa pemeriksaan Amien dan tiga saksi dari kepolisian itu sesuai dengan fakta. ’’Khusus dari Pak Amien Rais, kami menilai kesaksian beliau sangat baik, di mana Ratna Sarumpaet memang mengaku berbohong,’’ jelasnya setelah sidang.

Mengenai keterangan saksi dari kepolisian, itu dinilai belum bisa menggambarkan keonaran. Sebab, tidak ada kericuhan dalam demo itu.

Dia juga beranggapan bahwa pasal alternatif yang didakwakan kepada Ratna belum terpenuhi dari segi unsurnya. ’’Ya, itu belum masuk karena tidak ada kericuhan yang dimaksud,’’ ungkapnya.   

Sebagaimana diketahui, Ratna didakwa JPU dengan pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Selain itu, pasal 28 ayat (2) jo pasal 45 A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). (wib/co1/ind/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *