Kisah Korban yang Selamat dari Terjangan Banjir Bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura

Robert Mboik/Cepos

Manuel Pahabol bersama kedua orang tuanya dan saudaranya saat berada di Posko pengungsi di GOR Toware, Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (26/3).

Manuel Selamat Saat Air Terbagi, Yesayas Kehilangan Dua Anaknya

Manuel salah satu bocah laki-laki yang berhasil selamat saat rumahnya diterjang banjir, Sabtu (16/3) lalu. Bagaimana Manuel bisa lolos dari maut ? Berikut laporannya.
Laporan:  Robert Mboik & Gamel,  Jayapura

Manuel Pahabol terlihat sangat berbahagia saat berkumpul dengan orang tua serta saudara-saudarinya di Posko Pengungsian Korban Banjir Bandang di GOR Toware, Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (26/3).

Senyum tipis selalu menghiasi bibir bocah laki-laki yang sesekali terlihat tertawa saat bercengkerama dengan orang tuanya. Bocah ini sangat bahagia karena bisa kembali berkumpul dengan kedua orang tua dan saudaranya, setelah lebih dari seminggu yang lalu, ia berjuang keras untuk lolos dari terjangan banjir bandang.

Saat hujan deras mulai mengguyur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, Manuel merasa iba dengan anak babinya yang ada di kandang di belakang rumahnya di kawasan pemukiman Sosial, Sentani Kabupaten Jayapura.

Saat itu, Manuel di rumah bersama tiga orang saudaranya. Sementara ayah dan ibunya bersama adiknya saat itu melakukan pelayanan kepada jemaat gereja di Genyem.

Khawatir anak babinya itu kedinginan, ia kemudian ke kandang babi di belakang rumahnya untuk mengambil anak babinya. Namun naas, saat Manuel sudah berada di kandang babi, tiba-tiba dari arah belakang kandang muncul air bah yang menyeretnya bersama seekor anak babi yang sudah digendongnya.

“Saat air datang dengan deras, anak babi yang saya gendong terlepas dan kami hanyut. Saya hanya bisa pasrah dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan diri saat itu,” ungkap Manuel saat ditemui Cenderawasih Pos di GOR Toware, kemarin.

Air yang datang menerjang menurut Manuel seperti gulungan ombak besar di tepi pantai. Hal ini membuat dirinya hanyut diseret arus dan tertimpa berbagai material.

Manuel mengaku dirinya saat itu terbawa arus cukup jauh dari rumahnya sekitar 150 meter.

Di tengah derasnya air yang menyeretnya mejauh dari rumahnya, Manuel berusaha meraih benda yang ada di sekitarnya namun tidak ada satupun benda mengapung yang bisa dijangkaunya.

Di tengah kepanikannya terseret arus air yang deras, mujizat Tuhan terjadi. Secara tiba-tiba menurut Manuel, air bah yang menyeretnya tersebut terbagi dua. “Satunya mengalir ke samping kanan saya dan pas di tempat saya hanyut, air tiba-tiba surut dengan sendirinya,” ucapnya.

Manuel mengaku, dirinya berhasil selamat dari terjangan banjir berkat pertolongan Tuhan Yesus. “Yang menyelamatkan saya, Tuhan Yesus dan saya percaya itu,”tutupnya.

Korban selamat lainnya bernama Yesayas Eluay. Meskipun demikian pria asal Kampung Sereh ini  harus kehilangan dua anaknya, George (7) dan Stevani (2). Sebuah kehilangan yang sangat memukul mengingat ia gagal menyelamatkan keduanya saat banjir menerpa.

Yesayas sendiri bekerja sebagai petani  dan selama ini tinggal tak jauh dari kaki gunung Cycloop bersama empat anaknya.

Kepada Cenderawasih Pos ia menceritakan malam kelam tersebut, ia sama sekali tak menyangka jika banjir akan menerpa begitu dahsyat.

Pasalnya selama ini sejak ia lahir dan besar di kampung tersebut belum pernah ada musibah banjir seperti itu.

“Jadi jam 9 malam memang hujan deras sekali, lalu tiba-tiba terdengar bunyi seperti bunyi gemuruh dari arah kaki gunung dan tak lama air bercampur material turun dengan jumlah besar dan akhirnya ada dua anak saya yang meninggal,” kata Yesayas saat ditemui di Gereja GKI Solafide Kampung Sereh pekan lalu.

Yesayas ketika itu lebih banyak diam dan ia terlihat sangat kelelahan. Maklumlah setelah kejadian banjir ia masih harus mengurus proses pemakaman anaknya dan kini harus memikirkan rumahnya yang juga rusak akibat tersapu banjir.

Ia menceritakan dari empat anaknya ada dua yang selamat. Dua nama anaknya adalah Juan (4) dan Novita. Namun selamatnya dua anaknya ini bukan tanpa cerita menarik. Sang anak bernama Juan masih sempat dipeluk dan dibawa lari sedangkan Novita memilih memanjat pohon saat air mulai menerjang. “Jadi saya sendiri kaget karena hanya satu yang sempat dipegang sementara Novita ini memilih memanjat pohon sambil terus berteriak. Saya pikir jika  ia tak memanjat pohon maka kemungkinan ia juga akan meninggal,” ceritanya dengan nada pelan.

Sedangkan dua anaknya yang meninggal ternyata lebih dulu berlari keluar rumah dan tak lama ketika sudah berdiri di bibir pagar, banjir langsung menerjang dan menggulung ke bawah. “Mamanya juga lambat karena mereka sempat terbawa air lebih dulu. Istri saya masih sempat terguling-guling terbawa air sambil tetap mencoba  memegang anak tapi terlepas,” ungkapnya.

Yesayas semakin merasakan duka karena dikatakan saat itu masih sempat memegang tangan salah satu anaknya tapi terlepas. Air yang turun diakui kencang sekali dan membawa banyak kayu.

“Saya sempat pegang salah satu dan terakhir hanya dua jarinya yang terpegang hingga akhirnya terlepas. Saya tidak  kuasa karena air memang kencang dan saat itu malam. Saya coba tangkap yang bernama George tapi tidak bisa,” kenang Yesayas.

Ia sendiri tak bisa berbuat banyak karena memang situasi sedang dikepung air. Nantinya setelah  ia memberi kabar ke bawah (Kampung Sereh) barulah sejumlah pemuda naik melakukan pencarian  akhirnya Minggu (17/3) sekira pukul 02.00 WIT sang anak Stevani ditemukan. “Sedangkan yang laki-laki nantinya pagi hari baru kami dapat tersangkut di pohon-pohon,” imbuhnya.

Pihak keluarga sendiri akhirnya sepakat untuk  tidak menunda waktu pemakaman mengingat kondisi anak yang luka dan terendam air. “Jadi hari Minggunya setelah disembahyangkan kemudian kami makamkan di kampung Sereh juga,” tutupnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *