Hanya Isu, Tidak Ada Penculikan Anak

Takim/Cepos

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal saat memperdengarkan pesan audio isu penculikan anak kepada awak media saat konfrensi pers di RS Bhayangkara, Selasa (26/3).

 

JAYAPURA-Di tengah kerja keras semua pihak dalam melakukan penanggulangan bencana banjir bandang di Kabupaten Jayapura, ternyata masih ada pihak-pihak yang memperkeruh suasana dengan menyebarkan isu penculikan anak.

Isu atau hoax tersebut disebarkan melalui pesan audio berdurasi kurang lebih 4 menit 3 detik tersebut, menuding adanya penculikan anak kecil di salah satu Posko pengungsi di Sentani.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. AM Kamal sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawan dengan membuat rekaman audio seorang wanita yang memberikan keterangan adanya penculikan anak kecil. Parahnya lagi dalam rekaman yang beredar menurut Kamal disebutkan bahwa penculikan dilakukan hanya karena sang anak tidak bisa mengatakan kami anak Indonesia atau anak NKRI, tetapi menyebut kami anak Papua.

“Sejak hari Minggu, tim psikologi Polda Papua melakukan trauma hailing dan membagikan snack-snack terhadap anak-anak korban bencana banjir yang ada di Sentani. Jadi kehadiran kami pihak Kepolisian saat itu tidak lain hanya untuk memulihkan para korban banjir khususnya anak-anak yang mengalami trauma yang sangat mendalam,”jelasnya kepada awak media di RS Bhayangkara, kemarin.

Kamal menyayangkan, niat baik Polri untuk memulihkan kondisi para korban khususnya anak-anak, seakan-akan dirancang atau dirusak oleh isu atau hoax yang beredar saat ini.

Terkait hoax ini, Polda Papua menurut Kamal akan mengungkap dan mengejar pelaku utama dalam pesan suara tersebut. Kamal menegaskan bahwa pihaknya sudah memerintahkan tim khusus untuk mengidentifikasi isu atau pesan yang beredar tersebut guna menangkap para pelaku. Dimana perbuatan tersebut baik yang direkam maupun yang merekam akan dikenakan pasal yang berlapis.

“Saya berharap kepada masyarakat agar tidak ikut serta membagikan pesan suara yang berdurasi 4 menit tersebut sebelum kami nyatakan sebagai tersangka juga. Jadi jika mendapatkan pesan tersebut sebaiknya dhapuskan saja,” tegasnya.

Terkait penyebaran hoax ini, Kamal mengatakan, sengaja dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin merusak citra Polri dan TNI dimata masyarakat atau ingin menghancurkan nama baik Polri dan TNI.

Padahal saat terjadi bencana Polri dan TNI yang pertama turun membantu dan menolong masyarakat pasca terjadinya banjir.

“Diperkirakan pesan suara ini beredar mulai Senin (25/3) dan untuk lebih lanjutnya akan dilakukan penyelidikan lebih dalam,” tuturnya.

Sementara itu, kinerja TNI-Polri dalam mengatasi banjir bandang di Kabupaten Jayapura sejak Sabtu (16/3) hingga saat ini, mendapat apresiasi dari Ketua Umum Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia (LPRI) Provinsi Papua, Elisa Bouway.

Menurutnya, TNI-Polri hingga saat ini masih aktif dalam mengevakuasi para korban bencana banjir bandang di Kabupten Jayapura serta mencari korban yang diduga tertimbun lumpur hingga menyalurkan bantuan ke daerah-daerah yang terkena banjir.

Ketika TNI-Polri masih sibuk melakukan pencarian terhadap para korban, antusias dengan kondisi bencana yang melanda Kabupaten Jayapura. Elisa justru mempertanyakan keberadaan orang-orang yang kerap meneriakkan ingin memisahkan diri dari NKRI.

“Jangan mengatasnamakan Papua hanya untuk kepentingan sekelompok orang. Sementara rakyat Papua menderita mengalami musibah bencana alam mereka ini di mana ? Apa kontribusi kelompok ini untuk rakyat yang kena musibah,” tegasnya.

Kalau bicara merdeka menurutnya tidak asal teriak merdeka melainkan butuh kontribusi. “Kalau hari ini saudara kita mengalami musibah di manakah saudara kita yang sedang berteriak kemerdekaan itu. Harusnya turut memberikan kontribusi kepada para korban banjir bandang,” tuturnya.

Dia justru mempertanyakan rakyat mana yang dibela kelompok yang mengatasnamakan orang Papau itu, sementara orang Papua sendiri terkena musibah dan kelompok tersebut tidak melibatkan diri sama sekali.

“Kalau memang berteriak atas nama orang Papua, datang dan melibatkan diri, membantu proses evakuasi. Jangan hanya menatasnamakan rakyat Papua untuk membicarakan kemerdekaan,” ungkapnya dengan nada kesal.

Sebagai putra daerah, Elisa menyampaikan apresiasinya atas partisipasi TNI-Polri selama banjir bandang. Ia juga melihat, banjir bandang yang menimpa Kabupaten Jayapura itu membuat hati semua pihak tersentuh.

“Saudara yang beda suku, ras dan agama bahu membahu membantu pemerintah Kabupaten Jayapura. Dengan melibatkan diri membantu korban bencana alam lewat bantuan yang diberikan guna meringankan beban para korban,”tambahnya.

“Ini menandakan agar kita hidup rukun dalam bingkai NKRI, bencana yang melanda Kabupaten Jayapura secara tidak sadar saudara kita dari luar papua ikut berkonbtribusi untuk membantu warga masyarakat yang mengalami bencana alam,” sambungnya.

Menurutnya, proses evakuasi yang dilakukan TNI-Polri di lapangan sangat solid dan luar biasa pelayanan yang mereka berikan kepada masyarakat di posko posko pelayanan. “mereka melibatkan diri tanpa mengenal waktu,” tutupnya.(kim/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *