Gudangnya Anggrek, Papua akan Jadi Lokasi Wisata Anggrek

Gamel/Cepos

SIAP LOMBA: Tampak berbagai jenis anggrek dari berbagai daerah di di Papua yang akan diikutkan dalam lomba dan pameran di Hotel Swisbell, Rabu (13/3) kemarin.

JAYAPURA-Papua menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati di Indonesia nampaknya benar adanya. Tak sedikit hutan di provinsi lain yang rusak akibat deforestasi.

Papua juga menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai jenis anggrek yang tumbuh di Indonesia. Bahkan bisa dibilang Papua adalah gudang dari tumbuhnya ribuan species anggrek.

“Papua salah satu pulau di Indonesia yang paling kaya anggrek dan banyak sekali yang belum diberi nama dan diketahui sehingga sangat berpotensi dikembangkan. Ke depan saya pikir tak hanya berbicara konservasi tetapi juga dimanfaatkan sebagai induk silangan,” kata Irawati, Ketua Departemen Konservasi Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) di Hotel Swisbell, Jayapura, Rabu (13/3).

PAI Papua sendiri mengagendakan hari ini (Kami,14/3) akan menggelar Musda sekaligus lomba anggrek yang diikuti beberapa kabupaten. Kata Irawati, Papua bisa dijadikan sebagai lokasi wisata anggrek jika digarap dengan baik. Ini akan menarik sebab Papua sangat kaya.

Catatan PAI untuk anggrek di Papua tercatat dari keseluruh jenis yang berjumlah 5000, sebanyak 2000 jenisnya ada di Papua. Namun keberagaman jenis ini Papua masih banyak yang belum ditemukan atau teridentifikasi.

Dari 2000 jenis ini ada juga kelompok anggrek yang dilindungi dan terancam punah. “Jenisnya anggrek kantong karena penyebarannya sangat terbatas dan kalau diambil orang biasanya jumlahnya sangat banyak sehingga menimbulkan kerusakan yang tak hanya habitat tetapi juga ekosistemnya karena pohonnya ikut ditebang,” tambahnya.

Irawati mengatakan potensi anggrek di Papua juga menjadi rawan bagi para pelaku yang sudah memahami jenis anggrek yang langka.

Ini patut dijaga karena banyak yang berstatus endemik di Papua. “Selain itu banyak yang berpotensi sebagai induk silangan,” sambungnya. Lalu untuk anggrek hitam, disini Irawati meluruskan bahwa sebenarnya selama ini ada yang keliru karena anggrek hitam sebenarnya ada di Kalimantan dan Sumatera sedangkan yang di Papua memang ada beberapa yang berwarna hitam namun aslinya anggrek hitam ada di dua provinsi tadi. Ia juga berharap ke depan harus ada jenis-jenis baru yang dilindungi dan masuk dalam red list.

Hanya saja kata Irawati pihaknya tidak melakukan kegiatan ilmiah semisal identifikasi namun lebih pada mengajak daerah untuk mengembangkan potensi anggreknya.

“Kami buat program yang bisa diterapkan setiap DPD atau DCP dan dengan pameran orang akan mencintai anggrek dan otomatis akan ikut dalam hal konservasi,” tambahnya.

Disinggung soal harga anggrek dikatakan jika anggrek tersebut bagus maka nilainya tak terbatas. “Namun ada juga yang mencapai puluhan juta,” imbuhnya. (ade/nat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *