Di Nabire, Lebih dari 200 Rumah di 3 Distrik Terendam Banjir

Kampung Sima, Distrik Yaur Kabupaten Nabire yang terendam banjir akibat hujan deras 18-19 Februari lalu.

NABIRE- Hujan deras yang mengguyur wilayah Nabire dan sekitarnya beberapa hari belakangan menyebabkan banjir di beberapa distrik dan merendam rumah-rumah warga, pada 18-19 Februari kemarin.

  Data dari Humas Polres Nabire seperti disampaikan anggota DPRP dari wilayah Meepago , John NR Gobai, banjir  merendam beberapa rumah warga di beberapa kampung di 3 Distrik yakni di Distrik Yaro,  Distrik Wanggar dan Distrik Yaur . ( lihat tabel)

  Untuk Kampung Sima, di Distrik Yaur yang seluruhnya terendam banjir, menurut Jhon Gobai, wilayah tersebut boleh dikata identik dengan banjir apabila terjadi hujan. Curah hujan yang tinggi  bakal membuat banjir dan tergenangnya rumah warga dalam beberapa tahun terakhir.

  “ Ini terindikasi akibat laju deforestasi  oleh proyek perkebunan sawit,  karena  masa-masa sebelumnya fenomena alam ini tak pernah terjadi sejak terakhir tahun 1982. Dan hari ini peristiwa itu terjadi lagi cerita para petuah di kampung itu. Peristiwa banjir terjadi pada 2016 silam dan  pada 18-19 Ferbruari 2019 lalu,” jelasnya.

   Meskipun diakui, kondisi ini merupakan fenomena alam yang terjadi, namun ada hal yang perlu dikritisi soal penanganannya.“Sebagai orang yang pernah di Sima dan telah diterima sebagai keluarga dari Suku Yersiam, saya tak bisa mempersalahkan siapa disini tapi itulah fenomena yang sedang dan sudah terjadi. Sekarang saya mengkritisi tentang penanganan banjir itu,” paparnya.

   Dirinya berterima kasih kepada Pemda Nabire yang telah melakukan tanggap darurat   baik di kampung Sima maupun di di kampung-kampung lain yang juga mengalami situasi sama.

“ Tapi tanggap itu hanya berkisar memberikan bantuan bama saat masyarakat tak bisa beraktifitas. Namun, letak persoalan tejadi banjir tak diselesaikan. Misalnya di Sima, yang perlu dilakukan seperti menormalisasi 2 sungai yang mengapit kampung Sima, dengan membuat jalur baru sungai dan talut serta adanya Danau Buatan untuk menampung air dan danaunya dapat digunakan untuk memelihara ikan, agar kemudian dapat menjadi tempat pemancingan,” paparnya.

   Pengalaman banjir tahun 2016 seharusnya menjadi cermin pemerintah Dan istansi terkait di dalam mengupayakan dan mengerjakan letak masalah banjir di Kampung Sima.

Dikatakan, tak dapat dibantah, wilayah Suku YerisiamGua, Kampung Sima turut menyumbangkan devisa PAD Nabire lewat berbagai sektor baik kehutanan, perikanan, perkebunan dan potensi obyek wisata.

   “Dengan situasi ini kami meminta kepada Balai Wilayah Sungai Papua dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, untuk dapat mencarikan solusi jangka panjang terhadap adanya perkampungan Sima yang diapit oleh 2 (dua) Sungai,” paparnya.

  Sampai berita ini ditulis, belum ada informasi soal korban jiwa atau jumlah kerugian materil yang dialami akibar banjir ini. (luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *