Ketahanan Pangan Lokal Harus Dipastikan

Gamel Cepos
TOKOK SAGU – Seorang pria asal Sentani melakukan tokok sagu dalam Festival Sagu di Kabupaten Jayapura beberapa waktu lalu. Pemerintah provinsi ini memastikan bahwa pangan lokal seperti sagu bisa terjaga di tengah semangat swasembada beras.

JAYAPURA – Asisten II Setda Pemprov Papua, Ir Noak Kapisa  mengatakan bahwa dirinya setuju dengan rencana pemerintah mendorong Merauke sebagai salah satu lokasi yang digunakan untuk pertanian padi. Apalagi Merauke disiapkan untuk bisa melakukan swasembada beras secara mandiri di tahun 2023.

Namun dibalik mimpi besar ini, Noak juga tak ingin mengenyampingkan pangan lokal yang selama ini dikonsumsi secara turun temurun  oleh masyarakat yakni sagu maupun ubi.

Ia  menyampaikan bahwa disamping swasembada beras, Papua juga harus mampu memastikan bahwa keberlangsungan pangan lokal. Sagu dan ubi patut dijaga sebagai  makanan yang sudah dikonsumsi sejak dulu.

“Dulu di Merauke ada program Integreted Food and Energi yang terdiri dari 10 cluster dimana selain mengembangkan ketahanan pangan seperti padi tapi harus ada juga produk lokal. Harus ada selain program nasional,” kata Noak saat ditemui di Kantor Gubernur Papua, Selasa (12/2).

Ia mengingatkan bahwa semangat untuk swasembada padi ini harus dibarengi dengan peningkatan pangan lokal dan itu jangan ditinggalkan.

“Tadi kami baru diskusi di Bank Indonesia dimana mereka (Bank Indonesia) baru mengidentifikasi komoditas pangan lokal jenis usaha unggulan  dan kami di Pemda sudah membagi wilayah untuk ketahanan pangan lokal. Misal di Jayapura, Mappi, Sarmi, Waropen atas dan Bovendigul. Lalu ubi jalar bisa dikembangkan di Wamena maupun daerah dataran tinggi,” bebernya.

Pada tahun 2018 lalu kata Noak di Meranti, Provinsi Riau telah mengangkat sagu sebagai komoditi strategis nasional. Papua setuju dengan rencana tersebut meski diakui semua butuh perjuangan.(ade/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *