Warga Wesaput Sepakat Tolak Politik Uang

Marthinus Itlay saat menyerahkan daging Wam (Babi) kepada perwakilan masyarakat di Kampung Sabulama Distrik Wesaput. (Denny)

WAMENA – Menjelang pemilihan presiden dan legislative, masyarakat Distrik Wesaput Kabupaten Jayawijaya telah sepakat untuk tidak menerima politik uang dalam pemungutan suara di Distrik tersebut. Sebab, dalam pemilihan nanti mereka ingin memilih tokoh yang bisa membangun distrik itu, tanpa melihat tawaran –tawaran dari politik uang yang mengganggu masyarakat.

Salah satu tokoh masyarakat di Distrik Wesaput Marthinus Itlay mengungkapkan bahwa masyarakat sudah mendapatkan sosialisasi tentang politik uang yang sering kali dilakukan oleh para calon anggota legislative yang ingin mendapatkan suara. Namun masyarakat di Distrik Wesaput yang memiliki jumlah suara sekitar 8000 lebih ini telah menyadari untuk tidak menerima politik uang.

“Masyarakat di Distrik Wesaput tidak ingin adanya penggunaan politik uang, khususnya dalam pemilihan anggota legislatif April mendatang,”ungkapnya usai melakukan sosialisasi kepada masyarakat Wesaput, sabtu (9/2) kemarin.

Meskipun dalam pemilihan legislatif tahun ini, kata Marthinus Itlay, ada beberapa anak asli Wesaput yang akan maju dan bersaing untuk mendapatkan kursi di legislative, namun bukan berarti harus mencerai beraikan masyarakat .

Di tempat yang sama salah satu tokoh masyarakat Wesaput, David Hubi mengharapkan jangan ada sistem main uang. Kalau mau kasih suara itu sesuai keinginan dan hati nurani masyarakat. Ia menyampaikan kepada ratusan warga Wesaput yang hadir untuk tidak golput pada pemilu 2019, baik pada pemilihan anggota DPRD, DPRP, DPRI dan Presiden serta Wakil Presiden.

David menyampaikan terimakasih kepada dua calon yang melakukan kampanye di daerah mereka, sebab bisa mengumpulkan ratusan masyarakat dan memberikan informasi tentang cara memilih, terutama bagi pemilih pemula.

“Tanggal 17 April 2019 itu kita harus menyalurkan hak politik sesuai keinginan. Pilih orang yang kita anggap bisa melihat kita. Misalnya anak-anak di daerah kita di Wesaput ini. Berdemokrasi yang baik,” katanya.

Tokoh Masyarakat itu dari Wesaput mengatakan sistem kampanye yang dilakukan dua calon DPRD di Wesaput itu sangat sederhana. Sebab, mereka menggunakan bahasa daerah yang bisa dipahami oleh masyarakat, yang rata-rata masih kental dengan penggunaan bahasa daerah setempat. (jo/tri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *