Sejarah Injil di Papua Jangan Terputus

KARNAVAL: Sejumlah warga jemaat GKI Immanuel Hamadi yang terdiri dari orang tua dan anak-anak berjejer mengantre di belakang mobil-mobil karnaval yang dilakukan di Hamadi, Selasa (5/2). Kegiatan ini untuk memperingati masuknya Injil di di tanah Papua yang telah berusia 164 tahun.( FOTO : Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Mengenalkan kembali cerita Pekabaran Injil (PI) di Papua yang telah berusia 164 tahun, panitia GKI Immanuel Hamadi menggelar karnaval atau pawai kendaraan hias. Sebanyak sembilan mobil hias yang semuanya bertema kapal ikut dalam karnaval ini.

Dimulai perjalanan dua penginjil Carl Williem Otto dan Jhon Gottlob Geissler atau yang sering disebut Otto Geissler yang berjalan dari Eropa , tiba di Jakarta kemudian di Ternate dan dari Ternate ke Teluk Toreri di Mansinam dan ini semata-mata memberi pengetahuan bahwa pekabaran injil itu dimulai dari cerita itu.

“Kami pikir anak generasi sekarang juga perlu memahami cerita ini. Tak bisa berhenti di kami tetapi harus terus disampaikan agar histori itu  tak  hilang,” kata Ketua Panitia, Tito Kabuare sebelum pelepasan rombongan karnaval, Selasa (5/2).

Diceritakan bahwa Otto dan Geissler berangkat dari Ternate pada 25 Maret 1858 bersama empat orang pembantunya, Ali, Jumaat, Lahagi dan Loisa. Mereka  menggunakan perahu layar menyusuri Pantai Utara  Papua hingga tiba di Mansinam pada 10 April 1858.

Di sinilah perjuangan untuk menyebarkan Injil dilakukan  hingga akhirnya Injil memberi terang dan terus menyebar. “Bisa dilihat perjuangan saat itu dimana orang-orang ketika itu belum mengenal agama, pengaruh adat istiadat masih sangat kuat tapi dengan niat yang  kuat akhirnya Injil terus bertahan dan berkembang hingga sekarang,” katanya.

Karena itulah mobil-mobil karnaval kemarin semua berbentuk perahu dengan pernak pernik bendera-bendera. “Ini dilakukan Jemaat Immanuel Hamadi ini terdiri dari 8 wijk dan ada 9 kapal, harapan kami pesan tentang Injil ini bisa terus disampaikan dan tidak terputus,” imbuhnya.

Sementara itu, ibadah perayaan Hari Pekabaran Injil (HPI) ke- 164 di Tanah Papua, juga digelar di GOR Cenderawasih APO, Selasa (5/2) kemarin.

Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu menyebutkan bahwa HPI ke-164 sekiranya menjadi momentum gereja-gereja di Tanah Papua untuk berbenah, mengubah pola pikir dari yang tadinya menunggu dan menunggu menjadi lebih kepada aksi yang nyata.

Hal ini tidak lain dikarenakan perubahan dan perkembangan yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Tidak heran, kata Pdt. Mofu, jikalau pewartaan Kristen mendapatkan corak dan bentuk yang berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

“Seiring dengan perjalanan waktu, pewartaan Kristen mendapatkan corak dan bentuk yang berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Demikian, gerakan reformasi selama 500 tahun telah membuktikan bahwa ada sesuatu kekuatan transformasi di dalamnya,” jelasnya.

Ini yang menurutnya menjadi momentum menentukan dinamika roh dan semangat baru bagi penginjilan Kekristenan di tanah Papua, baik untuk mereferomasi ke dalam gereja dan persekutuan gereja-gereja di Papua mupun mereformasi perubahan Papua Tanah Damai.

Di tempat yang sama, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Papua (PGGP), Pdt. Mauri, mengapresiasi kehadiran seluruh denominasi gereja pada perayaan peringatan HPI ke-164 mengambil tempat di GOR Cenderawasih APO. Hal ini tidak lain, karena Injil merupakan kekuatan dari Tuhan.

“Kita sudah bersatu. Kita bersatu karena Injil yang menjadi kekuatan dari Allah. Itulah sebabnya, kita semua berkumpul di sini, dari semua denominasi gereja, yang tidak lain bertujuan untuk memuliakan Allah dan terus memuliakan-Nya,” tambah Pdt. Mauri

Sementara Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., dalam sambutannya yang disampaikan Kepala Biro Kesra Sekda Papua, Naftali Yogi menyebutkan bahwa di 164 tahun peringatan Injil masuk di tanah Papua, menjadi tantangan tersendiri bagi gereja-gereja di tanah Papua. Terlebih terkait dengan karakter umat Kristiani yang sejalan dengan injil Tuhan.

“Dengan injil sudah diberitakan 164 tahun lamanya di tanah Papua, sudahkah pimpinan gereja dari berbagai denominasi gereja telah bersatu dalam membangun mental spiritual umat? Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, terutama PGGP,” ucap Gubernur Lukas Enembe.

Menurutnya membangun tanah Papua, baik secara fisik maupun mental spiritual umat di Papua, bukan hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga. Melainkan seluruh lembaga yang mana memegang peran penting, baik pemerintah, agama maupun lembaga adat.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, ibadah syukur peringatan HPI ke-164 di Tanah Papua juga dilaksanakan di Jemaat GKI Petrus Waena. Ibadah tersebut dihadiri kurang lebih 600-an jemaat yang berasal dari 12 lingkungan.

Ketua Pantiai HPI Jemaat GKI Petrus Waena, Katrin Onge Nenepat mengatakan, ibadah syukur ini merupakan ibadah puncak, dimana beberapa hari yang lalu sejumlah kegiatan telah dilakukan jemaat GKI Petrus waena.

Sementara Pdt. Rumbewas, S.Th dalam khotbahnya mengatakan, tidak semua wilayah di Indonesia sama seperti Papua, yang begitu banyak suku dan ras namun kerukanan dan toleransi tetap terjaga. Hal ini karena karunia atas hadirnya Injil di tanah Papua.

“Jangan datangkan kegelapan, karena Papua sudah terang dengan kehadiran Injil beberapa ratus tahuhn lalu. Jauhi Miras dan mabuk-mabukan, hindari hal-hal negatif yang dapat merusak diri dan kegelapan bagi orang banyak,” pintanya. (ade/kim/gr/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *