Pelaku Kasus Pencemaran Nama Baik JWW Dijemput Paksa

PAM didampingi penyidik menuju ke Kejaksaan Tinggi Papua untuk penyerahan tersangka dan barang bukti terkait kasus ITE, Jumat (25/1) kemarin.( FOTO : Elfira/Cepos)

JAYAPURA- Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Papua lakukan tahap II kasus ITE (Pencemaran nama baik, dengan tersangka berinisial PAM dan barang bukti ke Kejaksaan Tinggi Papua, Jumat (25/1).

Tahap II yang dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Papua, setelah berkas perkara kasus ITE tersebut dinyatakan P21 oleh Kejaksaan Tinggi Papua pada tanggal 4 Desember 2018.

Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol Edy Swasono menerangkan PAM  dijemput paksa oleh Tim Direskrimsus Polda Papua di kediamannya Perumnas III Waena Jumat dini hari. Penjemputan paksa dilakukan lantaran yang bersangkutan tidak mengindahkan surat panggilan Polda Papua, terkait kasus postingan Facebook yang menjeratnya Maret 2017 silam.

“Yang bersangkutan ini tidak pernah kooperatif, jadi kita jemput paksa, saat dilakukan penjemputanpun  anggota tidak melakukan penganiayaan terhadap yang bersangkutan,” ucap Kombes Pol Edy.

Ia menuturkan, PAM dijemput Tim Direkskrimsus di rumahnya sekira pukul 16.00 WIT. Namun saat itu yang bersangkutan tidak ada di rumah sehingga anggota pulang, saat anggota kembali ke TKP sekira pukul 22.00 WIT, PAM  juga tidak ada dan sekira pukul  02.00 WIT yang bersangkutan muncul dari persembunyian di rumah tetangga.

“PAM keluar dari tempat persembunyian sembari teriak-teriak dan provokasi menarik perhatian tetangga, saat itu juga anggota mengamankan yang bersangkutan namun sebelumnya diberi kesempatan menemui istrinya. PAM digiring ke Mapolda Papua dengan kondisi tangan diborgol lantaran tetap melakukan pemberontakan, dan demi keamanan,” jelasnya.

Disinggung apakah anggota melakukan penganiayaan terhadap yang bersangkutan, Edi menyebutkan anggotanya tidak melakukan penganiayaan terhadap  tersangka. Justruk tersangka pada saat diperiksa di ruang pemeriksaan  unit Cyber Crime  mencoba melarikan diri dan melawan anggota. “Kami tidak menganiaya yang bersangkutan, upaya  petugas saat itu meringkus,” tegas Edy.

Sementara itu, kasus ITE tersebut terjadi pada (19/3). Pada saat masa kampanye Pilgub Papua, dimana tersangka membuat tulisan dan memposting di Akun Facebook miliknya dan beredar luas sehingga korban  bernama JWW merasa difitnah, dihina dan dicermarkan nama baiknya, dengan tulisan yang mengiring opini publik seolah-olah benar JWW telah memerintahkan timnya untuk menjatuhkan Lukmen dengan cara apapun.

Tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 Tahun. Tindak Pidana ITE yaitu dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *