BI Proyeksi Inflasi 2019 Paling Tinggi 4,5 persen

Joko Pratikno (FOTO : Gamel Cepos)

JAYAPURA – Persiapan Pekan  Olahraga Nasional (PON) tahun 2020 yang terus digenjot pemerintah diyakini Bank Indonesia bisa ikut memajukan sektor ekonomi masyarakat di Papua terlebih Jayapura. Bank Indonesia juga optimis pertumbuhan ekonomi Papua tahun ini akan lebih baik dibanding sebelumnya. Disebutkan dari catatan perbankan bahwa  dari tugas yang diberikan oleh undang-undang terkait menjaga inflasi daerah menurut Kepala Bank Indonesia perwakilan Papua, Joko Pratikno mengaku optimis inflasi di Papua akan lebih rendah dibanding tahun 2018.

“Kami prediksi inflasi tahun ini sekitar 3,5 persen atau maksimal 4,5 persen. Pada tahun sebelumnya inflasi memang cukup tinggi  namun ini tak lepas dari beberapa hal pertama soal tingginya harga tiket dan ketersediaan bahan pokok,” kata Joko menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos, di kantornya di Jayapura, Selasa (22/1). Pihaknya optimis inflasi daerah tahun 2019 ini lebih rendah. Pasalnya kini ada sejumlah instansi atau lembaga yang memiliki tim pengendali inflasi. Jadi catatan kami adalah kami tetap optimis bisa menjaga inflasi di daerah lebih baik.   

“Kami optimis  di tahun ini apalagi ada pembangunan venue PON  di Sentani lalu ada persiapan PON lainnya saya pikir pertumbuhan ekonomi Papua dan kegiatan lainnya tetap optimis,” kata Joko. Diakui inflasi memang masih tinggi dimana tahun 2018 lebih dari 6,7 persen namun  yang sangat mempengaruhi adalah harga tiket pesawat yang perlahan mulai terjadi penurunan. “Kami juga dibantu tim pengendali inflasi daerah, baik dari Polda maupun  Bulog juga ada,” bebernya.  Apalagi Saat ini rupiah sudah mulai menguat dan kalau lihat saat ini fundamental ekonomi Indonesia sudah sangat kuat, pertumbuhan ekonominya juga bagus dan inflasinya terkendali dan tak ada hal yang mengkhawatirkan.

“Kemarin nilai tukar sempat turun namun ini karena perang dagang antara Amerika dan Cina, ada kebijakan Amerika menaikkan suku bunga  sehingga investor menaik uangnya yang biasanya ditempatkan di Indonesia dan negara-negara lain dimasukkan lagi ke Amerika namun kini nilai tukar rupiah sudah cukup kuat. Lalu cadangan devisa Indoensia  juga cukup banyak dan aman. Saat ini sekitar $123 miliar dan ini bisa digunakan untuk intervensi jika rupiah melemah,” jelasnya. Penyebab inflasi menjadi 6,7 persen sendiri disebutkan tak lepas dari tingginya harga tiket kemudian  angka kemahalan ikan di Pelelangan Hamadi yang tergantung dari cuaca. “Ikan juga sulit kami kontrol sebab  di Papua masyarakatnya lebih suka ikan tangkap dan bukan ikan budidaya. Jika ikan mahal maka akan ikut mempengaruhi. Kalau beras stoknya sangat banyak ketersediaan stok bahan pokok. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.