Ahli Geologi Sampaikan Untuk Waspada

JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura mendapat warning keras dari kondisi iklim sebulan terakhir. Hujan deras yang intensitasnya belum menurun ini mengakibatkan banyak titik terjadi banjir dan longsor. Ini mendapat catatan dari akademisi Uncen bidang geologi.  Pemerintah disarankan untuk melakukan pemetaan geologi pada skala yang lebih detail  yakni 1 : 25.000. Ini untuk mengetahui bagaimana kondisi tanah dan bagian bawah tanah di Kota Jayapura yang lebih kecil agar bisa diprediksi potensi kemungkinan yang terjadi.

Marcelino N Yonas selaku Pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Papua menjelaskan bahwa curah hujan yang sangat tinggi di Kota Jayapura dan sekitarnya pada beberapa Minggu terakhir ini telah mencapai titik dimana telah menelan korban materiil yang tidak sedikit.

Curah hujan yang terjadi pada Sabtu (5/1) sore hingga Minggu (6/1) dini hari telah mengakibatkan banjir dan longsor di Kota Jayapura yang meluas hingga di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Kondisi geologi di Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua menurutnya yang sangat variatif dan menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkot Jayapura dan pemerintah Provinsi Papua dalam melakukan upaya pembangunan fisik sarana dan prasarana yang lebih mendasarkan pada tatanan geologi termasuk kondisi struktur geologi/tektonik, gemorfologi dan stratigrafi.

Dari kajiannya dari perspektif tektonik, di bagian utara wilayah Kota Jayapura dilalui oleh patahan aktif berupa Sesar Oblique dengan arah gaya relative utara-selatan. Implikasi dari patahan regional tersebut akan memberikan imbas melalui sesar-sesar minor yang indikasinya banyak dijumpai di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya dan tentunya bisa memberikan dampak langsung terhadap aktivitas manusia di atasnya.

Sementara itu, dari perspektif geomorfologi dan stratigrafi, menurut dosen Program Studi Teknik Geologi Universitas Cenderawasih ini sebagian wilayah Kota Jayapura masuk dalam kelompok batuan yang secara geologi berumur tua (ratusan juta tahun yang lalu) dan mengakibatkan proses pembentukan tanah (soil) menjadi sangat intensif.

“Urut-urutan perlapisan Formasi batuan berumur tua yang telah mengalami pelapukan intensif dan Formasi Batuan yang berumur muda akan berpotensi menjadi bidang gelincir untuk cikal bakal bencana longsor atau gerakan tanah pada wilayah Kota Jayapura,”  jelas Yonas siang kemarin.

Belum lagi ditambah pembangunan sarana fisik pada wilayah resapan air dan dataran banjir akan semakin mempercepat proses terjadinya bencana banjir. Introspeksi dari bencana yang terjadi di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya.

“Karenanya secara pribadi ada beberapa hal teknis yang mungkin perlu dilakukan sesegera mungkin, antara lain pertama melakukan pemetaan geologi pada skala yang lebih detail yakni 1 : 25.000 mengingat, peta geologi regional lembar Jayapura yang dikeluarkan oleh Badan Geologi masih menggunakan skala 1:250.000 yang sudah sangat tidak relevan lagi digunakan sebagai acuan dalam rencana pengembangan Kota Jayapura,” jelas Yonas.

Lalu kedua perlu adanya moratorium terhadap izin pembangunan fisik pada wilayah Kota Jayapura yakni AMDAL, UKL UPL dan sebagainya khususnya pada wilayah-wilayah yang berpotensi mengakibatkan bencana geologi dimasa mendatang sambil dilakukan evaluasi yang bersifat holistic dan lintas keilmuan untuk menghasilkan suatu analisis kajian yang capable.

“Lalu melakukan revisi Tata Ruang Wilayah Kota Jayapura yang lebih komprehensif dengan memperhitungkan kondisi geologi permukaan dan bawah permukaan di Kota Jayapura dan aspek-aspek keteknisan lainnya termasuk daya dukung dan kemampuan tanah di wilayah Kota Jayapura,” sarannya.

Untuk mewujudkan hal-hal tersebut di atas, maka kerja sama lintas sektoral yang melibatkan perguruan tinggi, LSM, DPRP dan OPD terkait sangat diperlukan untuk meminimalisir terjadinya bencana geologi di wilayah Kota Jayapura di masa mendatang. Pemahaman bahwa kita hidup di daerah bencana juga perlu disosialisasikan melalui jalur pendidikan di sekolah-sekolah dan masyarakat luas sehingga mari menyikapi bencana alam yang terjadi bukan sebagai hukuman dari Tuhan tapi sebagai pengingat bagi kita untuk selalu bisa hidup selaras dan harmonis dengan alam sekitar. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *