Kaget Lihat Jayapura Sudah Punya Banyak Gedung Bertingkat

Anton Krotov (kiri) dan rekannya Alexey Kuleshov ketika bertandang ke Graha Pena Papua, Jumat (4/1) kemarin.(FOTO : Wenny Firmansya/Cenderawasih Pos)

Anton Krotov, Traveller Rusia yang Keliling Dunia dengan Modal Minim

Menjadi seorang traveler sudah menjadi bagian hidupnya, sejak remaja dia sudah mengunjungi 112 negara, ke Indonesia sudah empat kali, apa penilainnya tentang Jayapura dan Papua

Laporan: Wenny Firmansyah

Anton Krotov (42) ditemani rekannya Alexey Kuleshov (26) bertandang ke Graha Pena Jumat (4/1) kemarin dengan wajah sumringah, dia begitu senang bisa kembali bertandang ke redaksi Cenderawasih Pos setelah tahun 2008 lalu.

Dengan bahasa Indonesia yang masih belum  fasih, Traveler asal Rusia itu menceritakan sangat senang kembali datang ke Indonesia dan Papua karena baginya Indonesia adalah negara yang sangat luas, dan kaya, orang-orang Indonesia pun sangat ramah. Sejak 2008 menginjakkan kaki di Indonesia dia mengaku tak kesulitan berkunjung ke Indonesia.

“Mengeksplore Indonesia tidak cukup satu bulan, tapi dua bulan lamanya, karena Indonesia sangat besar, saya suka sekali ke Indonesia. Dari ratusan negara yang saya kunjungi, Indonesia merupakan tempat favorit saya, dan saya menilai Indonesia itu negara paling bagus di Asia,” jelasnya.

Sejak  memasuki usia 15 tahun dia mulai berpikir untuk menjadi seorang traveler yang bisa keliling dunia dengan biaya murah alias backpecker. Orang tuanya tidak mempermasalahkan pilihan hidupnya itu untuk menjadi backpecker. Bahkan ketika memutuskan tidak melanjutkan sekolah lagi.

Dia menceritakan selama perjalanan keliling dunia tidak membutuhkan biaya besar, prinsipnya bila ada yang murah kenapa harus yang mahal. Jika ada kapal laut mengapa harus naik pesawat. Dan melihat tempat-tempat unik di dunia menjadi kepuasan baginya.

Anton Krotov memberi tips bahwa siapa pun bisa menjadi traveler yang bisa keliling dunia, yang pertama adalah waktu. “Jika  memutuskan menjadi traveler bahwa dia harus punya waktu, uang itu bukan faktor yang utama,  dan sejak memutuskan menjadi traveler dia bersyukur tidak menemui kesulitan, artinya tidak mengalami masalah dari sisi finansial,” katanya.  Setelah itu bisa makan apa saja, artinya bisa mengkonsumsi makanan di daerah yang dilewati.

Bagaimana dengan faktor keamanan terutama di negara-negara Timur Tengah, Anton menjelaskan sebenarnya masyarakat tidak masalah Cuma karena masalah rumor, isu, dan politik membuat daerah itu menjadi tidak aman dan tidak ramah bagi orang luar. Dia mencontohkan di Iran, masyarakat sangat ramah, dan bebas berjalan kemana saja, sementara di Iraq, Suriah dan sebagainya dia belum bisa mengeksplorenya. Begitu juga dengan di Afrika penduduknya ramah, hanya dirinya belum bisa ke Afrika Selatan karena masuk ke daerah tersebut izin yang sangat rumit.

Dia pun menarik kesimpulan  bahwa semua manusia di seluruh dunia mempunyai jiwa menolong sesama manusia, karena memiliki cinta kasih. Kalau sudah dipengaruhi fitnah, politik, isu tentu akan berbeda orang tersebut. Makanya Anton Krotov sangat tidak tertarik dengan politik.

Pria 42 tahun itu mempunyai profesi seorang penulis, dan sudah beberapa kali menuliskan buku  tentang traveler. Anton mengaku sangat senang dengan dunia tulis menulis, karena menulis merupakan kejujuran untuk mengungkapkan semua. Dia tak begitu suka dengan nonton televisi karena televisi dipenuhi dengan propaganda, rumor, dan politik. “Saya berjalan kemana saja, lalu pulang ke rusia menulis, keluarkan buku, lalu kembali jalan lagi. Dari 12 bulan, 11 bulan saya pergi melancong keliling dunia, hanya 1 bulan saja saya di Rusia, itu saya lakukan sejak saya usia 15 tahun,” katanya.

Anton mengakui memiliki Istri bernama Ekaterina juga dari Rusia dan juga seorang backpeker, Istrinya itu sudah mengunjungi 45 negara.

  Dia menceritakan sejak di Indonesia bisa tidur dimana saja, tak masalah tidur di Masjid, di rumah kepala desa,  bahkan ke daerah Malaria juga tidak masalah karena sudah ada obat Malaria. Hal itu juga sama dengan di Afrika, karena daerah tersebut daerah Malaria.

Lalu bagaimana dengan di Papua? Anton Krotov mengatakan jika dibanding dengan 10 tahun lalu  sudah banyak perubahan, saat ini sudah banyak gedung bertingkat, jalan di Jayapura sudah bagus, kotanya juga sudah menarik. Transportasi juga bagus. “ Saya dari Jakarta ke Papua naik kapal 7 hari, setelah dari Jayapura saya ke Wamena dan jalan-jalan melihat Wamena, Kurulu dan sebagainya, kemudian saya buat buku setelah saya kembali ke Rusia. Untuk makanan tidak masalah karena masih terjangkau, serta lebih banyak variasinya  dibanding  tahun 2008 lalu.  “ Yang penting, kalau mau melihat dunia yang indah ini asalkan punya waktu dan keinginan yang kuat maka lakukanlah, mulailah dulu dari yang dekat-dekat,” katanya  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *