30 Ribu Anak di Nduga Belum Diimunisasi MRP

GENDONG ANAK: Dua orang Mama-mama sedang menggendong anaknya saat menghadiri perayaan Natal bersama  di Gereja Kingmi Jemaat Imanuel Klasis Mbua di Kampung Mbua, Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Senin (24/12) lalu. Sampai saat ini masih ada 30 ribuan anak di Kabupaten Nduga belum diimunisasi MRP. (FOTO : Takim/Cepos)

JAYAPURA-Dari 33.080 ribu anak yang tersebar di 32 distrik di Kabupaten Nduga, 30 ribu anak di antaranya belum mendapat pelayanan imunisasi Measles, Rubella dan Polio (MRP).

Berdasarkan data cakupan imunisasi MRP  kabupaten dan kota di Provinsi Papua, Kabupaten Nduga yang paling rendah yaitu hanya 7,7 persen atau hanya sekira 3 ribuan anak yang sudah mendapat imunisasi MRP.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Innah Gwijangge, S.ST., M.Keb., MH.Kes., mengakui masih ada 30 ribu anak di Kabupaten Nduga yang belum mendapat cakupan imunisasi MRP.

Menurutnya ada 4 faktor yang menjadi kendala bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga dalam memberikan pelayanan imunisasi MRP yaitu masalah keamanan, geografis, akses transportasi dan sumber daya manusia.

“Terhitung dari 21 Juni 2018 lalu, terjadi insiden di Kabupaten Nduga menjadi kendala bagi petugas kami di lapangan khususnya terkait masalah keamanan dan kenyamanan,” ungkap Innah Gwijangge saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos via ponselnya, Jumat (4/1).

Selain masalah keamanan, kondisi geografis Kabupaten Nduga diakuinya menjadi kendala dalam memberikan pelayanan imunisasi MRP. Innah Gwijangge mengakui Kenyam ibukota Kabupaten Nduga berada di daerah dataran rendah, namun sebagian besar wilayah pelayanan Dinkes Nduga berada di daerah pegunungan yang hanya dapat dijangkau dengan transportasi udara.

“Dari satu distrik ke distrik lainnya, otomatis hanya menggunakan transportasi udara,” bebernya.

Di Kabupaten Nduga menurutnya ada 4 distrik yang dapat diakses menggunakan jalur darat yaitu Distrik Kenyam, Mbua, Yigi dan Wosak. Sementara 28 distrik lainnya hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara.  “Itu pun ada 12 distrik yang belum memiliki lapangan terbang sehingga hanya bisa diakses menggunakan helikopter,” jelasnya.

“Di Kabupaten Nduga hanya ada empat distrik yang bisa diakses melalui jalur darat. Namun itupun juga kadang terkendala dengan persoalan keamanan, sering konflik,” sambungnya.

Untuk dukungan transportasi khususnya transportasi udara, Innah Gwijangge  mengaku sejak Agustus 2018 telah menyurati Presiden Jokowi meminta bantuan helikopter untuk pelayanan kesehatan di Kabupaten Nduga. Dirinya juga telah melayangkan surat ke Menteri Kesehatan RI, namun sayangnya belum ada jawaban atas surat tersebut.

“Pemerintah  pusat menuntut kami  untuk mencapai cakupan imunisai, tetapi mereka  sendiri tidak memfasilitasi kami dengan situasi  atau transportasi udara yang kami minta. Sehingga tak bisa menyalahkan kami sepenuhnya yang ada di lapangan,” tegasnya.

Untuk sumber daya manusia, Innah Gwijangge mengatakan, jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Nduga saat ini sebanyak 103 orang. Dari jumlah tersebut, 68 orang merupakan tenaga didikan misionaris.

Meskipun menghadapi berbagai kendala, Pemkab Nduga melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga menurutnya selalu mencoba meningkatkan pelayanan kesehatan.

Bahkan Innah Gwijangge mengaku tidak tinggal diam. Pihaknya berencana dalam waktu dekat membentuk tim di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Tim ini menurutnya akan diturunkan di 32 distrik di Kabupaten Nduga untuk memberikan pelayanan kepada 30 ribu anak yang belum terlayani imunisasi MRP.    

“Harapan kami anak-anak yang 30 ribu orang ini sekalipun tidak masuk dalam target, tetapi mereka perlu mendapatkan imunisasi. Untuk itu, kami akan jalankan baik itu imunisasi MRP maupun imunisasi rutin untuk  pelayanan kesehatan  di daerah-daerah yang ada di Kabupaten Nduga,” tambahnya.

Tim kesehatan yang akan diturunkan ini menurut Innah Gwijangge juga nantinya akan melihat kondisi masyarakat yang ada di kampung-kampung. Sebab menurut informasi yang diterimanya, masih ada masyarakat yang mengungsi ke hutan pasca insiden awal Desember lalu dan belum kembali ke kampung mereka.

“Kami lebih mengutamakan tim turun duluan ke lokasi yang ada masalah, tim tersebut nantinya lebih mengutamakan pelayanan kesehatan,” pungkasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *