Tak Miliki Izin, Penjual Petasan Akan Ditindak

KEMBANG API: Sejumlah warga sedang membeli kembang api di Pasar Sentral Hamadi, Jumat (21/12).( FOTO : Elfira/Cepos)

*Kebakaran di Waena, Satu Orang Jadi Tersangka

JAYAPURA- Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin ingatkan anggota untuk antisipasi penggunaan petasan, hal tersebut disampaikannya pasca kasus kebakaran  yang mengakibatkan  9  petak kios, satu  unit rumah dan seorang bayi usia 5 bulan yang tewas saat kebakaran di Jalan Raya Sentani-Waena akibat kembang api, Kamis (20/12) malam.

Terkait penggunaan kembang api, Kapolda Martuani Sormin berharap TNI-Polri bisa memberikan imbauan kepada masyarakat terkait tempat-tempat yang bisa untuk membakar petasan, dan tidak bisa membakar petasan sehingga tidak menimbulkan bencana.

Dirinya juga meminta seluruh jajaran Reserse di wilayah hukum Polda Papua untuk melakukan penindakan terhadap warga yang tidak memiliki izin menjual kembang api.

“Apabila tidak memiliki izin, saya minta seluruh jajaran Serse untuk melakukan penindakan,” tegas Martuani di Mako Brimob Polda Papua, usai membuka apel gelar pasukan Operasi Lilin, Jumat (21/12).

Sementara itu, Kapolres Jayapura Kota, AKBP. Gustav R Urbinas mengatakan pihaknya segera mengedarkan imbauan Kamtibmas khususnya  dalam penggunaan dan juga penjualan bunga api atau  kembang api.

“Akan segera kita sampaikan imbauan tersebut terutama pada para distributor dan para penjual atau pengecer kembang api termasuk kepada para konsumen yang menggunakan, agar  dapat terhindar dari bahaya yang dapat menyebabkan kerugian pada diri sendiri dan orang lain,” ucap Kapolres Gustav Urbinas.

Dikatakan, imbauan tersebut akan dimuat dalam aturan sesuai dengan perizinan dan imbauan  terkait dengan pencegahan terhadap bahaya penggunaan kembang api. Untuk tempat-tempat yang tidak memiliki izin berjualan, termasuk barang yang dilarang yaitu petasan akan ditindakan tegas.

“Kembang api sepanjang mendapatkan izin dari pihak kepolisian dibolehkan, karena itu sudah dikaji dengan undang-undang. Tetapi kalau masuk dalam kategori petasan, itu sama sekali tidak boleh. Sebab petasan meledak di bawah bukan meledak di udara dan itu sangat membahayakan,” jelasnya.

Untuk jenis diameternya lanjut Kapolres, semua dikaji lewat Kepolisian. Sepanjang berjualan tidak ada dokumen berarti semua ilegal, dan pihaknya akan mengecek langsung penjual kembang api termasuk  yang menjual di lapak ataupun kios.

“Apabila dia bukan distributor yang menjual langsung  maka harus memiliki izin dari pihak kepolisian,” tegasnya.

Kapolres Gustav urbinas mengaku sudah memerintahkan Kasat Intel, Kasat Reskrim dan Kapolsek jajaran untuk mengawasi penjualan petasan atau kembang api. “Apabila yang berjualan  belum  ada surat izin dari Kepolisian maka akan disita dan diamankan demi keamanan diri sendiri dan orang lain,” tambahnya.

Sementara itu, Kepolisian dalam hal ini Polsek Abepura telah menetapkan satu orang tersangka dengan inisial MIG (25) terkait dengan kasus kebakaran  yang mengakibatkan 9 petak kios, satu unit rumah terbakar dan seorang bayi lima bulan tewas di Jalan Raya Sentani-Waena, Kamis (20/12) malam.

Penetapan pria 25 tahun ini menjadi tersangka melalui hasil gelar perkara kasus tindak pidana kejahatan membahayakan keamanan umum bagi jiwa orang maupun barang kebakaran. Selain itu, penetapannya juga berdasarkan keterangan para saksi dan barang bukti yang didapatkan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). “MIG ditetapkan sebagai tersangka karena dengan sengaja membakar kembang api didekat penyimpanan kembang api,” Kapolres Jayapura Kota AKBP Gustav R Urbinas yang dikonfirmasi melalui Kanit Reskrim Polsek Abepura Ipda Nur Arifin, S.T.K.

Dikatakan, akibat perbuatannya tersebut yang bersangkutan  disangkakan dengan kitab Undang Undang Hukum Pidana Pasal 187 Ayat (1), ayat (2), ayat (3) sub Pasal 188 KUHP.

Dimana dalam Pasal 187 KUHP berbunyi barangsiapa dengan sengaja membakar, menjadikan letusan atau mengakibatkan kebanjiran, dihukum  maka bisa mengakbatkan penjara selama – lamanya 12 tahun, jika perbuatan itu dapat mendatangkan bahaya umum bagi barang.

Selain itu penjara selama-lamanya lima belas tahun, jika perbuatannya itu dapat mendatangkan bahaya maut bagi oranglain dan penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun, jika perbuatannya itu dapat mendatangkan bahaya maut bagi oranglain dan ada orang mati akibat perbuatannya itu. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *