Tentara PNG Juga Jemur Tiga WNI

Kepala Kantor Imigrasi  Klas II Merauke Murdo Danang Laksana (Dua dari kiri)  bersama jajarannya saat menunjukan foto ketiga warga Indonesia yang dipukul tentara PNG dan dijemur. Jumat (7/12).(FOTO : Sulo/Radar Merauke)

MERAUKE – Tiga warga Indonesia yang sebelumnya dilaporkan dianiaya oleh tentara PNG, ternyata dari laporan resmi yang diterima  oleh  Kantor Imigrasi Kabupaten Merauke hanya satu orang. Kepala Kantor Imigrasi Kabupaten Merauke Murdo Danang Laksana mengungkapkan bahwa  satu orang yang mengalami penganiayaan itu bernama  Jenri (37).

Korban mengaku dipukul 2 kali pada rahang sebelah kiri.  Sementara dua warga lainnya Thomas Ndimar  dan Markus Ndimar tidak mengalami pemukulan.  Namun demikian,  ketiga warga negara asal Kabupaten Merauke tersebut mengaku dijemur di bawah terik matahari selama 2 jam.

  Hal itu disampaikan Kepala Imigrasi Kabupaten Merauke Murdo Danang Laksono didampingi sejumlah pejabat dilingkup Kantor Imigrasi Kabupaten Merauke saat menggelar konfrensi pers,  Jumat (7/12).

   Danang menjelaskan,  ketiga warga negara Indonesia tersebut berangkat ke PNG lewat jalur darat Pos Lintas Batas Sota, Rabu (28/11) lalu. Tujuan ketiga warga Indonesia ke PNG tersebut, jelas dia,  adalah untuk berburu rusa dan berjualan di Kampung Sapes,  Weam,  PNG.

  Saat melapor di Pos tentara PNG, ketiganya diizinkan untuk memasuki Kampung Sapes,  Weam,  PNG.  Setelah berburu rusa,  selanjutnya  pada tanggal 1 Desember 2018 sekitar pukul 12.00 WIT, ketiganya kembali ke  Pos Weam  untuk melaporkan  diri dan meminta izin untuk kembali  ke wilayah Indonesia  dengan menemui petugas Imigrasi dan menunjukan dokumen keimigrasian Pas Lintas Batas milik  mereka.

  “Namun setelah menunjukkan pass lintas batas milik mereka, terjadi insiden  pemukulan terhadap Jenri dan seorang juru Bahasa warga PNG bernama Jack yang dilakukan oleh seorang oknum  PNG Defence Force atau tentang PNG atas nama Mr Pakarom  yang pada saat masuk  ke PNG   oknum tentara PNG tersebut memberikan izin kepada mereka,’’ katanya.

  Alasan pemukulan yang dilakukan  oleh oknum tentara   PNG itu karena  di dalam pas lintas batas tersebut tidak dipasang foto dari yang bersangkutan. Yang menurut  Danang selama ini, untuk pas lintas batas  tersebut memang tidak dipasang foto.

    Karena itu, oknum tentara  tersebut menyita barang bawaan ketiga warga negara Indonesia tersebut  berupa 4 ekor rusa, 2 buah parang, dan lima liter bensin.  ‘’Itu sesuai dengan pengakuan dari Markus Dimar dan Jenri,’’ tandasnya.

  Jenri merupakan  warga Indonesia asal Manado yang menikah dengan   penduduk asli Sota. Atas   pemukulan yang dialami  oleh seorang warga negara Indonesia tersebut, kata Danang, dari pihak korban Jenri  meminta kepada oknum tentara  PNG tersebut untuk dipertemukan dengan oknum tentara PNG tersebut dan  yang bersangkutan  meminta maaf.

  Dikatakan bahwa pada Kamis (6/12) sekitar pukul 15.30 WIT  telah dilakukan pertemuan antara Danramil Sota dan Satgas Pamtas dengan Komandan tentara PNG di tugu perbatasan Indonesia-PNG di Sota.

     Dalam  pertemuan tersebut, kedua belah pihak dari Danramil dan Komandan Tentara PNG  telah sepakat  untuk diselesaikan secara kekeluargaan dengan syarat Danramil  akan melanjutkan informasi kejadian  tersebut ke Kedutaan Besar PNG agar pemerintah PNG mengetahui tindakan  yang dilakukan tentara PNG  kepada warga negara Indonesia tersebut.

  ‘’Setelah  dilakukan pendekatan keamanan  yang dilakukan Danrmail dan Satgas terhadap tentara PNG, pihak Imigrasi akan menangani permasalahan administrasi keimigrasian terhadap kasus tersebut,’’tandasnya. (ulo/gin)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *