Siswa Punya Kompetensi Keahlian yang Siap Bekerja.

Kepala Seksi Kurikulum dan Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Maks Karu didampingi oleh Kepala Sekolah SMKN 2 Jayapura Elia Waromi saat melakukan pengguntingan pita sebagai simbolis peresmian ruangan Technopark, Rabu (5/12) siang kemarin.(FOTO : Erik / Cepos)

Ketika SMKN 2 Jayapura Launcing Produk Technopark

Pemerintah menang telah mendesain Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar setelah lulus anak-anak sekolah langsung bisa terjun ke dunia kerja. SMKN 2 Jayapura saat ini telah mempunyai bengkel latihan, seperti apa?

Laporan: Eriyanto

Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jayapura melauncing Produk Technopark sekaligus penyerahan sertifikasi profesi bagi 13 siswa/siswi dan penandatangan kerjasama (MoU) dengan 9 badan usaha/industri yang berlangsung di Halaman Sekolah SMKN 2 Jayapura, Rabu (05/12) kemarin.

Kegiatan yang berlangsung tersebut juga ditandai dengan pelepasan balon diudara dan peresmian ruangan Technopark SMK Mart, dan SMK Travel yang mewadahi perjalanan wisata/ticketing berkerjasama dengan maskapai penerbangan seluruh Papua secara online. Juga dihadiri perwakilan kepala sekolah kejuruan dari 5 wilayah adat di Papua.

Kepala Seksi Kurikulum dan Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Maks Karu kepada wartawan, Rabu (05/12) mengatakan, tersebut merupakan program revitalisasi sekolah kejuruan guna meningkatkan mutu dan daya saing, dimana ada sejumlah program yang harus dilakukan oleh sekolah yang ada di lima wilayah adat Papua.

“Kita sudah komitmen meningkatkan sekolah kejuruan di lima wilayah adat, ada sejumlah program yaitu, teaching factory (model pembelajaran produk/jasa), program technopark (kawasan terpadu yang gabungkan dunia industry, pusat riset dan pelatihan, informasi serta teknologi efisien dan cepat), program SMK berbasis industri, program LSP-P1 yang didalamnya kita pastikan orang-orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan assessment calon-calon SMK layak atau tidak,” ujarnya.

Dikatakan dengan adanya sertifikasi program LSP-P1 yang telah diberikan kepada 13 siswa/siswi didalamnya juga ada konsekuensi dengan logo Garuda diwajibkan industri mengambil peran bisa menerima siswa/siswi secara teknis menjadi tenaga kerja professional atau bisa juga digunakan untuk job matching.

“Konsep itu harus menjadi tuntutan bagi industri di Papua, jadi jangan cuma cari keuntungan tetapi tidak peduli dengan masyarakat, sekolah di dunia industri, sehingga program inpres ini dalam rangka menjawab persoalan itu, tapi saat ini ada industry yang sudah jalani kerjasama,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SMKN 2 Jayapura Elia Waromi mengatakan, Technopark yang dimiliki SMKN2 Jayapura merupakan pengembangan dari teaching factory atau bengkel latihan yang langsung berhadapan dengan dunia luar/masyarakat umum, dimana siswa/siswi yang mengelola hal itu berdasarkan kompetensi keahlian yang siap bekerja.

“Technopark ini mewadai beberapa teeaching factory yang sudah jalan agar kedepan terus diawasi, sehingga benar-benar berjalan sesuai kurikulum yang diakui dunia kerja, dan bisa diterima menjadi karyawan dunia kerja dengan keahlian mereka. Jadi di kita ada SMK Mart, dan SMK Travel yang mewadahi perjalanan wisata/ticketing bekerjasama dengan maskapai penerbangan seluruh Papua secara online, dan produk wisata edukasi bagi anak SD dan SMP mengenai Kota Jayapura maupun luar kota. Mereka juga sudah punya Lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1) LSP-P1,” katanya.

“Ada delapan dunia usaha/industri untuk bidang magang siswa, juga ada perekrutan pegawai/karyawan setelah anak-anak selesai sekolah, dan mereka bersedia membantu sekolah untuk pengembangan keahlian. Tadi juga ada bazaar rumah selama dua hari yang disponsori 8 dunia usaha,” tutupnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *