Perlu Digelar Pasukan Untuk Awasi Proyek Jalan Trans Papua

Sementara salah satu akademisi Uncen, Marinus Yaung justru menganggap kejadian ini tak lepas dari kelalaian aparat keamanan. Tewasnya para pekerja ini kata Yaung karena kurangnya kewaspadaan dari karyawan dan pekerja PT. Istika Karya.

Pekerjaan proyek Trans Papua di wilayah konflik menurutnya harus benar-benar waspada dan perlu dukungan aparat keamanan. Tanpa dukungan penjagaan aparat keamanan maka resikonya nyawa melayang.  “Saya harus tegaskan juga bahwa peristiwa Nduga bisa terjadi karena kelengahan dari pihak keamanan yang bertugas di Nduga,” katanya.

Dosen FISIP Uncen ini menulis perilaku pelaku bisa dengan leluasa mengeksekusi korban karena mereka mengintai dan menemukan kelengahan aparat sehingga penyergapan dilakukan terhadap pekerja. “Pelaku dengan sadis menghabisi korban itu mereka belajar dari cara aparat keamanan juga waktu menghabisi anggota mereka secara sadis,” ujar Yaung.

Seharusnya seluruh wilayah di pegunungan tengah Papua yang sedang giat-giatnya membangun, perlu digelar pasukan besar-besaran untuk mengawasi jalannya proyek trans Papua dan menjamin keselamatan nyawa para karyawan swasta yang sedang bekerja. Yaung juga menganggap bahwa Presiden Jokowi juga harus ikut bertanggung jawab tewasnya para korban ini. Pasalnya korban tewas akibat pembangunan infrastruktur yang dipaksa lebih cepat.

“Apa maksud Presiden Jokowi memaksakan pembangunan infrastruktur yang masif di Nduga tanpa memastikan resiko keamanan pekerja swasta terjamin? Presiden Jokowi harus meninjau ulang program infrastruktur di Nduga. Jangan terus menerus menjadikan perkembangan pembangunan infrastruktur Nduga sebagai pencitraan mengejar elektabilitas untuk kepentingan politik jangka pendek.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *