Pemerintah Harus Serius Tangani HIV-AIDS

Aktivis HIV-AIDS Papua, Wecki Gombo, Yan Matuan  dan Lis Tabuni saat memberikan keterangan ke Cenderawasih Pos, Minggu (2/12).(FOTO : Takimn/Cepos)

JAYAPURA- Provinsi Papua mencatat jumlah kasus HIV- AIDS 38.874 orang per 30 September 2018.  Menempati posisi tertinggi di Indonesia berdasarkan persentasi jumlah penduduk.

Aktivis HIV-AIDS Papua, Yan Matuan mengatakan, melihat jumlah Odha di Papua yang tembus 38.874 bukan hal yang sepele, karena secara berlahan masyarakat Papua akan punah karena HIV-AIDS tersebut.

“Jumlah ini membuktikan bahwa penyebaran HIV-AIDS di Papua sangat aktif dan pemerintah harus mengatasi persoalan ini dengan lebih serius.  Pemerintah harus merubah program atau system penanganan HIV-AIDS supaya bisa membuat masyarakat Papua bebas dari ‘pembunuh berdarah dingin’ tersebut,’’ujar Yan Matuan ke Cenderawasih Pos di Abepura, Minggu (2/12).

Hal yang sama juga dikatakan aktivis HIV-AIDS Papua lainnya  Wecki Gombo bahwa, pemerintah harus bertindak cepat dalam menangani hal ini.

Pemerintah harus bekerja sama dengan elemen masyarakat untuk membuka jaringan baik antara kampung/distrik, dalam hal ini pemuda peduli HIV-AIDS supaya bisa mengkoordinir dengan efektif para Odha.

Sementara itu aktivis HIV-AIDS perempuan Papua, Lis Tabuni mengatakan berduka cita atas menimpa masyarakat Papua khusunya perempuan-perempuan yang akan melahirkan masa depan Papua, dimana dari data ODHA yang terinfeksi perempuan memiliki angka yang paling tinggi yakni, dari 38.874 orang total keseluruhan dan perempuan menempati urutan pertama dengan jumlah mencapai 20.314 penderita, sementara laki – laki lebih sedikit dengan jumlah 18.463 penderita.

“Kalau seperti apa jadinya Papua ke depan, dimana ibu-ibu yang susah paya akan melahirkan anak atau masa depan papua terinfeksi virus tersebut,”ujar Lis.

Selain menuntu tindakan dari pemerintah, Lis menyampaikan kepada seluruh masyarakat Papua lebih khususnya para laki-laki  untuk menjaga sikap dan perbuatan dimana pun berada, jangan karena kelalaian dari seoreang suammi anak istri jadi korbanya. ‘’Memang ada sebagian juga perempuan karena pergaulan yang ‘nakal’ tapi para suami yang lebih dominan,’’ujarnya.(kim/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *