Hingga September, Penderita HIV-AIDS di Papua Tembus 38.874 Jiwa

JUMPA PERS: Kadinkes Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., saat menggelar jumpa pers di kantor Dinkes Provinsi Papua, Jumat (30/11).( FOTO : Robert Mboik/Cepos)

JAYAPURA-Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, hingga September 2018, penderita HIV-AIDS di Provinsi Papua mencapai 38.874 jiwa.

Dari jumlah tersebut penderita HIV sebanyak 14.581 jiwa dan AIDS sebanyak 24.293 jiwa.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., mengatakan sangat besar kemungkinan jumlah penderita HIV di Papua masih banyak yang belum terdata. Hal ini tergantung dari peran serta seluruh masyarakat, stakeholder dan instansi terkait dalam memerangi masalah ini, mulai dari tingkat yang paling bawah dalam hal ini pemerintah daerah setempat.

“Berdasarkan validasi data hingga 30 September 2018, jumlah penderita HIV-Aids mencapai 38.874 jiwa,” ungkap Kadinkes Aloysius Giyai saat menggelar jumpa pers di kantor Dinkes Provinsi Papua, Jumat (30/11).

“Keprihatinan terhadap persoalan AIDS ini keperihatinan bersama. Artinya di Papua tingginya HIV-AIDS di Papua disebabkan oleh multi sektor,” sambungnya.

Dia berharap, untuk mengatasi persoalan ini perlu keterlibatan semua pihak. Sebab jika tidak maka persoaalan ini masih sulit untuk diatasi. Meski disatu sisi sejauh ini munculnya kasus HIV baru di Papua, umumnya sudah bisa ditekan.

Dia mengatakan, untuk mengatasi persoalan HIV ini butuh peran seluruh masyarakat. “Kalau saya lihat trend HIV-nya semakin kita tekan. Tapi penemuan kasusnya yang bertambah. Kenapa trendnya kita tekan, karena kita mampu menggalakkan promosi kesehatan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Dia mengatakan, selama ini belum semua kabupaten di Papua serius mengatasi persoalan ini. Dari beberapa kabupaten yang ada di Papua baru 9 kabupaten yang memiliki lembaga KPA, namun hanya 5 KPA di lima kabupaten yang aktif menjalankan programnya.

“Jadi jumlah 38 ribu itu ibaratnya salju yang diketahui hanya bagian atasnya. Bagian bawah permukaan itu bisa dua atau tiga kali lipat banyaknya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Penanggulangan dan Pengendalian AIDS, TBC dan Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Berri Wopari, M.Kes mengatakan, sejak 2013 sampai Oktober 2018, untuk penemuan kasus baru memang selalu ditemukan.

“Tetapi secara umum jika dirata-ratakan kalau dirata-ratakan setiap tahun kasus HIV positifnya sudah berkurang karena berbagai intervensi di dalam,” tambahnya.(roy/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *