RSUD Jayapura Harus Berbenah

PERTEMUAN: Suasana pertemuan antara keluarga almarhumah Novella LS Mauri/Mambrasar dengan pihak RSUD Jayapura di lantai 3 Gedung Instalasi  Rawat Jalan RSUD Jayapura, Senin (26/11).(FOTO : Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Dugaan kelalaian tindakan medis yang dilakukan oleh oknum dokter dan oknum perawat yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, yang terjadi pada Selasa (5/11) lalu, hingga membuat pasien atas nama Novella LS Mauri/Mambrasar menghembuskan nafas terakhir, diharapkan tidak terjadi lagi.

Harapan ini disampaikan pihak keluarga pasien Novella LS Mauri/Mambrasar dengan pihak RSUD Jayapura di lantai 3 Gedung Instalasi  Rawat Jalan RSUD Jayapura, Senin (26/11). Dalam pertemuan tersebut, pihak keluarga menegaskan bahwa RSUD Jayapura harus berbenah.

Kedatangan pihak keluarga yang terdiri dari orang tua, kakak, adik, paman serta suami dari almarhumah Novella untuk menyampaikan keluhan mereka. Selain itu, keluarga juga ingin mendapatkan klarifikasi  terkait dengan pelayanan medis yang dianggap tidak sesuai dengan prosedur, sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa Novella.

Sebagai suami, Edwin Ronald Mauri tentu berduka lantaran kehilangan seorang pendamping hidup, sehingga ia berharap ke depan jangan ada lagi korban akibat dari kelalaian yang dilakukan oleh oknum dokter  ataupun oknum perawat yang ada di RSUD Jayapura.

“Cukup isteri saya yang jadi korban di RSUD Jayapura. Jangan ada lagi orang papua lainnya yang kehilangan nyawa di RSUD ini,” ucap Edwin dalam pertemuan..

Atas kejadian yang menewaskan isterinya tersebut, ia menaruh harap agar RSUD Jayapura segera berbenah sehingga tak ada lagi orang Papua lainnya yang meninggal dengan sia-sia akibat kelalaian oknum dokter ataupun perawat.

Ia juga berharap oknum dokter dan oknum perawat yang diduga melakukan kelalaian diberikan tindakan tegas kepada mereka. Bahkan bila perlu keduanya tidak ditugaskan lagi.

“Sebagai suami, saya tidak minta bayar kepala atas kejadian ini dan saya serahkan kepada pihak manajemen. Saya hanya berharap, ada solusi yang baik ke depan sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat lebih baik,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Edwin menceritakan kronologi kejadian pada 5 November yang menyebabkan isterinya tutup usia lantaran kelalaian oknum dokter dan perawat. Dimana saat itu, Novella mengalami gangguan kesehatan terutama pada gangguan pernapasan, dan pada 5 November sekira  pukul 18.00 WIT  sempat dirawat di RSAL Hamadi.

Setelah itu, sekira pukul 19.15 WIT Novella diantar ke dokter spesialis jantung di Apotik K24 Abepura dan oleh dokter dirujuk ke RSUD Jayapura untuk mendapatkan perawatan lanjutan (rawat inap).

“Kami tiba di RSUD Jayapura sekira pukul 20 30 WIT, sambil menunggu adanya ruangan perawatan yang akan disiapkan oleh Paramedis. Seorang dokter umum dan perawat yang piket malam itu melakukan tindakan medis kepada isteri saya dengan cara menyuntikkan obat Penicillin melalui lnfus/Intravena sehingga mengakibatkan Novella merasa perih dan pusing, kemudian mengalami kejang-kejang dan menggigit lidahnya lalu meninggal dunia sekira pukul 01.15 WIT,” tuturnya.

Dikatakan, dalam proses pemeriksaan korban di RSUD Jayapura, suami dan keluarga korban lantas merasa ada hal yang aneh pada saat dokter dan perawat menangani almarhumah. Dimana kondisi almarhumah sebelum masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jayapura masih terlihat baik, bisa diajak bicara dan tidak ada tanda-tanda kritis. Bahkan bisa menangkap pembicaraan dengan lawan bicara.

Menurut catatan status dari dokter spesialis jantung pemberian obat tersebut harus dilakukan tindakan menyuntik secara Intmmusculair (lM) yang artinya pemberian obat/cairan secara langsung ke dalam otot (Muskulus). Namun tindakan yang dilakukan oleh oknum dokter dan perawat dengan memberikan cairan obat melalui infus menyebabkan Novella menghembuskan nafas terakhir.

“Betapa kecewa, sakit hati, terpukul dan tidak percaya atas peristiwa tersebut. Dimana almarhuma harus mengalami kejadian tersebut hanya karena suatu kesalahan yang dilakukan oleh oknum dokter dan perawat yang disaksikan saya, anak-anak dan ponakan-ponakan saya saat itu,” kesalnya.

Atas kejadian tersebut, keluarga menyimpulkan telah terjadi kesalahan atau setidak-tidaknya terjadi  malpraktik dari oknum dokter dan perawat RSUD Jayapura yang menangani korban pada saat itu. Kendati demikian, Edwin beserta keluarga besar bersepakat untuk tidak akan menuntut manajemen RSUD Jayapura ke ranah hukum.

“Saya dan keluarga besar meminta agar ke depan, dokter dan perawat di RSUD Jayapura dapat bekerja secara profesional agar tidak ada lagi korban seperti lstri saya,” tegasnya.

Atas kelalain tersebut, keluarga meminta pihak menajemen RSUD Jayapura untuk segera menyampaikan permohonan maaf secera terbuka kepada keluarga besar yang berduka dan ekspos di beberapa media cetak, online yang ada di Kota Jayapura secara berturut-turut.

Di tempat yang sama, kakak almarhumah, Adam Malik Mambrasar mengungkapkan bahwa cukup adiknya yang menjadi korban atas tindakan malpraktik. Tidak ada lagi orang Papua lainnya menurutnya yang menjadi korban atas tindakan oknum dokter.

“Ini harus menjadi catatan bagi pihak rumah sakit, dan kami tidak menuntut apapun karena kami tidak jual adik kami sehingga bisa dibayar dengan istilah bayar kepala,” tegasnya.

Adam juga menegaskan bahwa aturan harus ditegakan, sehingga diberikan tindakan kepada mereka yang membuat adiknya meninggal.

Sementara itu, Plt Dirut RSUD Dok II Jayapura, Anggiat Situmorang mengaku ini menjadi pembelajaran bagi para medis.

“Perawat dan dokter harus bekerja dengan hati,” ungkapnya dalam pertemuan kemarin.

Ia juga meminta agar sama-sama berpikir untuk bagaimana memperbaiki RSUD Jayapura ke depannya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *