Budidayakan Ikan, Masyarakat Butuh Pendampingan

Masyarakat saat melakukan panen ikan di salah satu kolam yang ada di Distrik Musatwak beberapa waktu lalu.(FOTO : Denny/ Cepos)

WAMENA-Budidaya ikan air tawar secara komersial merupakan hal yang baru bagi masyarakat di Kabupaten Jayawijaya. Sebab, selama ini setiap mendapat bibit ikan, masyarakat hanya lepas begitu saja di dalam air, dan dibiarkan tumbuh besar tanpa diberikan pakan. Masyarakat belum paham managemen usaha perikanan.

Kabid Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Carlos Matuan mengakui banyak masyarakat beranggapan jika ikan itu ketika dilepas saja tanpa diberi makan itu pasti tumbuh, sebenarnya tidak seperti itu. Dulu mungkin air kolam ini belum tercemar sehingga kebutuhan pakan ikan itu selalu tersedia secara alami.

“Kita tahu jika masyarakat memelihara ikan dengan cara melepas seperti itu harus pada air yang dapat menyediakan makanan secara alamiah, atau yang bisa menghasilkan plankton sebagai pakan ikan, sehingga ikan tanpa diberi makan pun akan bertumbuh baik,” ungkapnya Kamis (22/11) kemarin.

Dengan situasi perkembangan yang berbeda seperti ini, kata Carlos Matuan, kesuburan air menurun dengan adanya pencemaran, sehingga tidak bisa menumbuhkan plankton sebagai pangan alami ikan. Jika air itu tidak bisa menumbuhkan pakan secara alami maka pertumbuhan ikan juga lambat.

   “Saat ini yang menjadi kelemahan kita itu pendampingan secara rutin dari dinas yang ada di Kabupaten itu tidak berjalan dengan baik,” bebernya.

  Ia menambahkan, kalau masyarakat diberikan bantuan tapi tidak diberikan pendampingan jelas tidak akan berkembang. Ini berbeda dengan masyarakat di luar Papua, pengembangan ikan ini adalah sistem kerja yang baru dikenal masyarakat di Jayawijaya. Kalau seperti beternak Babi mungkin masyarakat di Pegunungan tengah merasa biasa dan paham betul polanya.

  “Pengembangan ikan ini bagi masyarakat suatu budaya yang baru, sehingga dari sisi managemen masyarakat belum paham kapan harus, diberi makan, membeli pakan dan kapan harus dijual, pendapatannya harus seperti apa belum bisa,” tambah Carlos.

  Yang terjadi saat ini, menurut Matuan, setelah masyarakat menjual ikan uang yang didapatkan akan habis begitu saja, mereka tidak memikirkan lagi untuk pengembangan kedepannya, sehingga perlu ada system pendampingan yang memadai bagi masyarakat.

  “Selama ini kami dari Provinsi membantu dengan paket tetapi dilepas begitu saja tanpa ada pendampingan dari daerah, begitu juga dari kabupaten juga hanya memberikan bantuan tanpa ada pendampingan,”jelasnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *