Kami Orang Kecil, Pejabatlah yang Harus Lihat Kami

Salah satu kendaraan sedang melintasi jalan yang dipenuhi genangan lumpur disekitar jalan masuk Pasar Youtefa, Rabu (21/11), kemarin. (FOTO : Robert Mboik/Cepos)

Melihat Dari dekat Kondisi Pasar Youtefa  Musim Penghujan

Hampir setiap musim penghujan kondisi pasar Youtef selalu dikeluhkan warga. Alasannya klasik yakni banjir selalu menggenangi daerah pasar. Apa yang mereka harapkan?

Laporan Robert Mboik-Jayapura

Hampir setiap musim hujan tiba, para pedagang dan warga yang menggantungkan hidupnya di pasar Youtefa selalu mengeluh. Hal ini disebabkan karena pada saat musim penghujan rezeki yang diperoleh dari warga tersebut turun drastis. Kondisi ini menjadi momok yang cukup menakutkan bagi para pedagang dan juga warga lainnya yang selalu mencari nafkah di pasar tersebut.

Apa sebabnya,  karena setiap kali hujan tiba ,  pasar tersebut sangat memperihatinkan, mulai dari tergenang air, jalanan becek dan berlumpur . Kemudian kondisi ini memberikan dampak buruk bagi warga.

   Kenyataan pahit ini juga diungkapkan oleh satu tukang ojek, Hardiman namanya. Dia mengatakan, keadaan pasar Youtefa saat ini tidak layak disebut sebagai pasar. Sebab tidak sesuai dengan pasar pada umumnya.  “Jalanan lumpur ada juga yang digenangi air berlumpur. Biasanya kalau seperti ini bukan pasar tapi sirkuit balapan motorcross,” ungkapnya

Menurut Sardiman, kondisi seperti ini sangat merugikan warga yang sedang menjalani aktivitasnya di pasar itu. Tidak saja pedagang termasuk pembeli juga turut merasakan buruknya kondisi jalan di dalam areal pasar itu. Tidak sampai disitu, akibat jalanan yang becek dan berlumpur itu ternyata turut mempengaruhi pendapatan harian para jasa angkutan ojek yang bermarkas disekitar pasar tersebut.

Mereka berharap, kondisi ini tidak berlarut. Diharapkan kepada pemerintah Kota Jayapura segera menimbun dan mengecor jalan atau lintasan yang ada di dalam area pasar itu.  Sebab selama ini, untuk mengurangi lumpur dan genangan air, para tukang ojek tersebut juga terpaksa harus mengumpulkan uang secara sukarela guna membeli material untuk menimbun di sekitar lokasi pangakalannya. “Kadang Rp 20 ribu kami kumpul beli material supaya genangan air ini bisa hilang,” tuturnya.

Menurutnya, buruknya kondisi itu disebabkan karena belum adanya saluran air atau  yang tersedia di dalam areal pasar. Sehingga pada saat turun hujan,  air hanya tergenang di sekitar tempat tempat jualan warga dan jalanan. Kata dia yang lebih memperihatinkan lagi, fenomena seperti ini sudah berlangsung lama sejak tahun 2005 lalu. “Kalau bisa dua hal itu dulu yang perlu dilakukan pemerintah daerah, yaitu jalan dan saluran airnya dibangun,” harapnya.

  Bagi pedagang misalnya, dengan adanya kondisi pasar seperti ini justru akan membuat calon pembeli semakin jauh dari pasar.  Jumlah kunjungan pembeli kepasar akan berkurang, akibatnya  jumlah barang yang terjual s berkurang dan bahkan dalam sehari ada juga pedagang  yang  sama seklai tidak dikunjungi pembeli.  Ini sebenarnya sudah menjadi persoalan, karena ada efek yang  ditimbulkan.

“Kami inikan orang kecil, tidak mungkin kita  mau perintah pejabat atau kita harus datangi pejabat. Pejabatlah yang seharusnya lihat kami. Fasilitas jualan di pasar ini sangat memperihatinkan. Tolong datang dan lihatlah kami,  bapak walikota juga harus turun langsung. Jangan hanya utus anak  buahnya saja,” kata Servina Yehusi  salah satu pedagang sayuran  saat ditemui media ini, kemarin.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *