Dana Otsus Sudah Digunakan dan Dirasakan

JALAN OTSUS: Salah satu amanah dalam Otsus adalah pembangunan diberbagai sektor termasuk infrastruktur. Tampak Jalan Ring Road  yang dibangun menggunakan dana APBN, APBD Provinsi dan APBD Kota Jayapura hingga kini masih menunggu penyelesaian.(FOTO : Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Salah satu anggota DPRP, John Gobai mengatakan, penggunaan dana otonomi khusus (Otsus) sejak diberlakukan pada 2001 hingga saat ini sudah dipergunakan dan dirasakan oleh masyarakat orang asli Papua. Sehingga sangat tidak tepat apabila dana Otsus ini dikatakan belum digunakan secara baik.

“Pengelolaan dana Otsus ini jangan dikatakan  tidak digunakan dengan baik. Tidak tepat kalau ada anggapan seperti itu,” teags John Gobai saat ditemui Cenderawasih Pos di Auditorium Uncen, Rabu (21/11) kemarin.

Menurutnya, sejak kepemimpinan Gubenur Papua, Lukas Enembe tahun 2013 lalu, pengelolaan dana Otsus sudah mulai terarah. Dimana saat itu Gubenur Lukas Enembe mengeluarkan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Nomor 25 tahun 2013 yang pada pasal 11 diatur tentang 80 persen dana Otsus dikelola oleh kebupaten dan kota. Untuk itu, dana tersebut mutlak dikelola oleh bupati atau walikota sejak saat itu.

“Jadi yang banyak tahu dana itu digunakan untuk apa kemudian diatur seperti apa ada di kepala dinas keuangan, Bappeda dan juga bupati/wali kota di kabupaten dan kota. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa dana otsus itu tidak digunakan baik,” tuturnya.

Dikatakan, ada beberapa program kerja yang selama ini lakukan oileh pemerintah daerah didanai dengan dana tersebut. Misalnya anggaran dana Prospek untuk kampung-kampung, Kartu Papua Sehat, perumahan khusus OAP yang dibangun melalui Dinas Perumahan Provinsi Papua, program Bangga Papua dan lainnya.

Semua program tersebut menurutnya dijalankan untuk kepentingan Orang Asli Papua (OAP)  yang diambil dari anggaran dana Otsus.

“Kalau kita mau bilang dana Otsus itu tidak ada hasilnya, tidak bisa juga. Jadi sangat keliru kemudian ada orang mengatakan bahwa dana Otsus  tidak mempunyai hasil yang signifikan, menurut saya tidak,” tegasnya.

Meskipun demikian, dirinya mengakui masih ada beberapa kekurangan yang perlu dibenahi disisa waktu ketersediaan anggaran tersebut. Seperti sektor  ekonomi yang perlu diperkuat. “Harapan saya ke depan, gubenur harus mempertimbangkan  agar ada dana pengembangan  ekonomi rakyat yang mungkin bagus  dilakukan oleh provinsi,” tandasnya.

Misalnya, dulu gereja terlibat untuk menampung hasil pangan masyarakat lokal, setelah diolah kemudian dijual.  Metode seperti ini diakuinya sangat dirasakan oleh masyarakat. Kemudian pemerintah juga perlu mengambil contoh  apa yang pernah dilakukan oleh PT. JOdevo. Dimana perusahaan tersebut membeli pangan lokal masyarakat, sehingga terjadi perputaran uang secara langsung kepada masyarakat.

Senada dengan itu, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., juga mengakui, pengelolaan dana Otsus untuk di lingkungan Pemkot Jayapura sangat bagus dan berhasil. Hal ini telah dievaluasi oleh tim dari Universitas Cenderawasih (Uncen)  tentang pengelolaan dana Otsus di Kota Jayapura hasilnya bagus.

“Manfaat Otsus di Kota Jayapura sangat bagus dan berhasil. Ini berdasarkan dari evaluasi tim dari Uncen kepada kami tentang pengelolaan dana Otsus,” ungkap Tomi Mano kepada Cenderawasih Pos, Senin (19/11)lalu.

Dijelaskan, pemanfaatan dana Otsus lebih dominan diberikan kepada OAP khususnya OAP Port Numbay. Dana tersebut diberikan kepada masing-masing OPD di lingkungan Pemkot Jayapura melalui program dan kegiatan baik itu untuk pemberdayaan masyarakat OAP,  peningkatan kualitas kesehatan, peningkatan kualitas pendidikan dan infrastruktur OAP. Melalui dana Otsus ini ada afirmasi khusus bagi OAP.

“Kami berharap dana Otsus bisa terus meningkat seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, dan Otsus tetap kami gunakan dengan maksimal dan tetap ada pertanggungjawabannya,”jelasnya.

Sementara itu, pendapat masyarakat terkait Otsus juga beragam. Ada yang menganggap belum menjawab apa yang dibutuhkan Papua, namun ada juga yang menyatakan  gagal. Sementara lainnya ada pula yang menyebut perlu formula yang lebih tepat agar besaran anggaran benar-benar bisa menjawab mimpi Papua selama ini.

“Kalau ditanya untuk sektor pendidikan dan kesehatan bisa saya katakan masih menjadi PR besar di tengah angka kematian orang Papua yang tinggi. Mulai dari gizi buruk, narkoba, dan HIV-AIDS. Ini membuat Papua belum mampu melahirkan setidaknya 100 orang cerdas yang mendunia karna karyanya” kata Rini Setiani Sutrisno Modouw,  S.Pd,M.Sc, salah satu  guru di Jayapura.

Selain itu, finalis puteri Indonesia ini melihat persoalan ekonomi juga masih dikuasai kaum borjuis dengan makin meningkatnya korupsi ditataran kekuasaan, birokrasi maupun pimpinan daerah. Lalu yang berkaitan dengan sosial dikatakan orang pinggiran makin termajinalkan di tengah hak ulayatnya.

“Alam tergadai, tanah, air dan sumber sumber hidup lainnya menjadi makin langkah di kota modern dan daerah akibat imigran yang tak terkendali,” beber Rini dalam pesan Whatsappnya. Di tengah bergulirnya Otsus ternyata Papua juga belum mampu menyelesaikan persoalan klasik yakni masalah sosial dan kriminal akibat minuman keras yang belum mengalami penurunan.

“Saya bingung jika mau menyebut apa yang baik. Mungkin memberikan bantuan kepada anak-anak sekolah agar menjadi investasi jangka panjang dan kembali mengabdi serta cerdas, tidak bodoh, sontoloyo dan jadi genderuwo kalau istilah sekarangnya,” sindir Rini.

Sementara bagi Ketua Kelompok Afiaro Morena di Dok VII Jayapura, Jeremias Wanggai  mengatakan, Otsus merupakan sebuah kebijakan pemerintah yang sangat memberdayakan masyarakat Papua terutama bagi para pengusaha kecil di Papua. Namun di mata Jeremias Wanggai Otsus belum begitu menyentu seluruh lapisan masyarakat yang ada di Papua.

“Otsus itu datang untuk kami tetapi hanya sebagian saja yang kami rasakan, dalam beberapa tahun ini. Dana maupun bantuan melalui Otsus yang kami terima, masih setengah-setengah saja. Untuk kami kelompok nelayan Afiaro Morena bantuan Otsus yang kami peroleh berupa 1 buah coolbox pada tahun 2011 lalu. Setelah itu, kelompok saya tidak menerima bantuan Otsus lagi,” ungkap Jeremias kepada Cenderawasih Pos, Rabu (21/11).

Diakuinya, Otsus sudah sangat tepat hadir di Papua dan bagi masyarakat Papua. Namun menurutnya  masih belum merata bagi masyarakat di Papua. Otsus merupakan kebijakan khusus bagi masyarakat Papua, untuk itu pihaknya sangat berharap pemerintah melalui Otsus dapat memberdayakan setiap masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.

“Jangan beri kami bantuan Otsus, tetapi untuk barang-barang yang tidak memiliki nilai atau sebatas pelengkap laporan saja kami dimanfaatkan. Kami harapkan pada sisa waktu Otsus ini, kami harus diperhatikan secara merata. Bukan hanya satu kelompok saja atau satu wilayah saja melainkan semuanya harus mendapat bagian yang sama,” pintanya.

Khusus bagi para pengusaha nelayan seperti dirinya, yang sangat diharapkan dari Otsus adalah adanya bantuan berupa mesin motor laut atau sekalian dengan perahu yang dapat dipakai untuk mencari ikan. Dengan begitu baru bisa diakui bahwa melalui dana Otsus para nelayan di Papua ikut diberdayakan dan merasakan manfaatnya.  (roy/dil/ade/ana/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *