Terdakwa Mengaku Bawa Benda Tajam untuk Jaga Diri

Takim/Cepos
Suasana persidangan kasus pembunuhan di tanah hitam yang berlangsung di PN Jayapura, Kamis (15/11).

JAYAPURA- Sidang lanjutan kasusu pembunuhan di tanah hitam beberapa waktu lalu kembali digelar dengan agenda pemeriksaan terdakwa di PN Jayapura, Kamis (15/11)  kemarin.

Dimana dalam persidangan tersebut ketiga tersangka tersebut mengakui bahwa saat menuju ke tempat kejadian atau rumah korban yang membawa 4 benda tajam berupa, keris dan parang dibawa oleh Iksan, Ardiansah membawa badik sementara Wildansyah membawa parang yang pakai sarung.

Dalam persidanggn ketua hakim, Matius SH menayakan kepada salah satu tersangka yakni, Wildansyah, dengan alasan apa ketiga tersangka membawa barang tajam tersebut. “Kami bawa barang tajam hanya untuk berjaga-jaga takutnya ada yang serang atau terjadi apa-apa,”kata Wildansyah.

Setelah itu Hakim menanyakan kalau untuk menjaga-jaga kenapa ada empat barang yang dibawakan, apakah sudah ada rencana atau sudah dibuat strateginya sebelum ke tempat si korban?

Namun tersangka kembali dengan jawabanya  tidak karena mereka bawa benda tajam tersebut hanya untuk menjag diri saja.

Dimana menurut pengakuan ketiga tersangka dalam persidangan tersebut, inisiatif iksan yang merupakan kakak dari dua tersangka lainya yang membuat ketiganya membawa barang tajam tersebut. “Saya tidak menyuruh mereka untuk membawa benda tajam namun saya hanya menunjukan tepat penyimpanan benda tajam tersebut,”kata Iksan setelah ditanya hakim.

Dan saat tiba di TKP tersangka dengan salah satu korban sempat adu mulut atau baku ribut dan setelah korban tersebut berteriak datanglah kaka korban yang juga merupakan korban kedua. Setelah adu mulut juga akhirnya ketiga tersangka pulang menggunakan dua motor.

Sebelumnya didalam kios terjadi pertengkaran,  salah satu Wildansyah menunjuk salah satu korban yang saat memegang parang untuk dilepaskan, setelah itu terjadi rebutan parang teriaklah salah satu korban (Hasmi). Mendengar teriakan tersebut munculah korban (Dani)  yang merupakan kakak Hasmi tersebut  datang membawa parang panjang, dan terjadilah adu mulut dan kemudian ketiga terdakwa memutuskan untuk balik pulang.

Setelah itu ketiganya hendak pulang, korban berteriak langsung memaki dengan kata-kata anjing babi dan bilang banci. Mendegar teriakan dari korban, salah satu tersangka Wildansyah kembali untuk mengejar korban.  “Akhirnya saya kejar korban lari masuk ke rumah. Setelah itu Iksan dan Ardiansyah ikut menyusul,” katanya dalam persidangan.

Setelah tersangka Wildansyah mengejar dan menyusulah kedua tersangka lagi, kemudian terjadilah baku ribut dan saling serang, sehingga kedua korban terluka parah dan akhirnya meninggal dunia.

Menurut keterangan terdakwa yang menebas kedua korban tersebut adalah sang kakak dari kedua tersangka yaitu Iksan.

“Saat terjadi pertengkaran, Dani yang dekat saya langsung menyerang saya, kemudian saya  tangkis pakai tangan sebelah kiri dan saya tebas balas, setelah itu datang lagi adiknya si Hasmi ayunkan parangnya ke saya, dan saya tangkis pakai tangan lalu saya balas ayunkan parang juga ke arah Hasmi, saat saya ayun ke Hasmi saya tidak tahu kena atau tidak,”jelas iksan saat ditanya hakim dalam persidangan tersebut.

Setelah kejadian tersebut, kedua terdakwa (Iksan dan Ardiansyah) melarikan diri menggunakan motor masyarakat yang pas melintas di TKP.

Sidang yang dipimpin oleh, Matius SH dan kedua nagotanya ,Abdul Gafur SH, Muliyawan SH dan Penuntut umum Marthin Manuhutu SH itu memutuskan persidangan lanjutan dengan agenda tuntutan yang akan dilaksanakan pada 25 November  mendatang.(kim/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *