Dianiaya, Sopir Taksi Sentani Mogok

Taksi jurusan Sentani saat melakukan aksi mogok di Terminal Waena, Rabu (14/11), kemarin. (FOTO : Robert Mboik/ Cepos)

JAYAPURA-Aksi mogok jalan yang dilakukan oleh hampir seluruh taksi jurusan Ekspo-Sentani, Selasa dan Rabu, (14/11), kemarin tidak terlepas dari ulah salah satu oknum masyarakat yang melakukan penganiayaan terhadap salah satu sopir di jalan. Mirisnya lagi saat kasus itu terjadi, yang bersangkutan mengenakan atribut dinas perhubungan.

“Ya kami pertanyakan kenapa sampai yang bersangkutan memiliki atribut dinas perhubungan. Apa suruhan dari dinas atau bukan,” kata salah satu sopir yang enggan dikorankan namanya saat ditemui Cenderawasih Pos di seputaran Ekspo, Rabu (14/11), kemarin.

Menurutnya, aksi mogok ini dilakukan sopir sebagai bentuk protes atas penganiayaan yang dilakukan oleh oknum pegawai Dishub gadungan tersebut di salah satu ruas jalan menuju Sentani, Selasa (13/11).

Belum diketahui pasti alasan pelaku menganiaya sang sopir. Saat ini, kasus tersebut sudah dilaporkan ke pihak kepolisian di Polres Jayapura.

“Mungkin karena salah parkir atau bagaimana sampai teman kami dianiaya,” katanya penuh sesal.

Dikatakan, penganiayaan itu terjadi sekira pukul 10 WIT di salah satu jalan di Sentani. Korban dipukul dengan menggunakan balok kayu hingga menyebabkan korban mengalami luka. Aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh pelaku ini sudah empat kali terjadi. Ini merupakan kasus keempat yang kemudian mengundang simpati dari seluruh sopir jalur Sentani. Mereka melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes kepada instansi terkait dan juga pihak kepolisian yang dinilai tidak bisa memberikan kenyamanan.

Aksi mogok ini sudah berlangsung sejak kasus itu terjadi dan dilanjutkan hingga kemarin pagi.”Kami hanya meminta supaya aparat juga bisa menjaga keamanan. Supaya siapa saja yang bekerja bisa aman dan lancar,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, pihak kepolisian dan pihak dinas perhubungan sudah melakukan negosiasi dengan para sopir supaya bisa melanjutkan pekerjaannya. Sementara kasus itu sudah dilaporkan ke Polsek Sentani. Para Sopir berharap agar polisi dapat mengusut tuntas masalah itu.

Terlepas dari kasus penganiayaan itu, mereka juga mempertanyakan atribut dari dinas perhubungan yang dikenakan pelaku saat kejadian itu. Sebab dengan menggunakan atribut dinas perhubungan itulah pelaku dianggap sebagai pegawai dinas perhubungan. Padahal saat dikonfirmasi, yang bersangkutan bukan sebagai pegawai atau staf dari dinas tersebut.

“Dinas perhubungan harus usut, dari mana atribut yang dia kenakan. Jangan sampai ke depan ada lagi tindakan semacam itu. Kalau ada sopir atau anggota kami yang salah, silahkan diselesaikan dengan baik-baik atau dengan hukum,” harapnya. (roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *