Realisasi Program Sejuta Rumah Memprihatinkan

Nelly Suryani. (FOTO : Yohana/Cepos)

JAYAPURA – REI (Real Estate Indonesia) menilai realisasi program Presiden yaitu 1 juta rumah sangat memprihatinkan, karena  peraturan regulasi baru yang langsung diterapkan tanpa dilakukan sosialisasi terlebih dahulu.

Ketua DPD REI Papua, Nelly Suryani mengatakan, tahun 2018 ini realisasi 1 juta rumah sangat memprihatinkan, dengan regulasi baru langsung diterapkan tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu.

Menurutnya, dalam menerapkan regulasi baru boleh-boleh saja asalkan diberikan masa transisi Permen No. 5 Tahun 2016 tentang izin mendirikan bangunan, yang oleh Dirjen Pembiayaan hanya dibatasi sampai tahun 2018.

“Sosialisasi akhir tahun diterapkan di awal tahun. Bagaimana mungkin, sedangkan kami di Papua dalam membangun membutuhkan 3-6 bulan persiapan karena semua material harus didatangkan dari Jakarta,” ungkap Nelly kepada Cenderawasih Pos, Selasa (13/11) kemarin.

Diakui Nelly, realisasi program sejuta rumah, boleh dikatakan pada triwulan pertama pihaknya tidak bisa merealisasikannya. Bukan hanya REI saja, perbankan juga tidak bisa menyalurkan kredit KPR bagi masyarakat.

Selain itu masih banyak faktor yang mempengaruhi realisasi program sejuta rumah tersebut seperti halnya Regulasi Penerapan PP 64 Tahun 2016 SLF tentang pembangunan rumah  juga menjadi kendala yang mengharuskan pihaknya segera menyesuaikan peraturan tersebut.

“Harus ada masa transisi, dengan berbagai kendala yang kami hadapi maka kami hanya mampu merealisasi program sejuta rumah dari tahun 2015-2018 sebanyak 4.742 unit rumah bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah),” terangnya.

Lanjut Nelly kondisi tersebut bukan hanya dirasakan oleh pihaknya, tetapi secara nasional baru tercapai 40 persen  atau dari rencanan APBN Rp 6 triliun FLPP baru terealisasi awal Oktober 2018 sebesar Rp 1,9 triliun untuk seluruh Indonesia.(ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *