Pasar Sagu dan Kopi Papua Sangat Menjanjikan

Kepala Balitbangda Papua Ir. Omah Laduani Ladamay,M.Si.

JAYAPURA – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Ir. Omah Laduani Ladamay,M.Si mengatakan bahwa ada dua komoditas yang pihaknya rekomendasikan untuk dikembangkan menjadi produk unggulan di Provinsi Papua yaitu sagu dan kopi arabika.

  “Ada dua komoditas yang kami rekomendasikan yaitu sagu untuk wilayah pantai dan kopi arabika untuk wilayah pegunungan,”ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (13/4) kemarin.

Pihaknya menyatakan komoditas sagu dan kopi ini sudah dikenal oleh masyarakat, tinggal bagaimana menerapkan teknologinya untuk pengolahan. “Apalagi kopi arabika, sejak zaman Belanda sudah dikembangkan tinggal kita menata dari sisi tanam, pelihara, petik, olah dan jual. Untuk sisi tanam, pelihara, jual kita lagi coba perbaiki dari sisi tata niaga dan tata laksana. Karena itulah persoalan yang kita hadapi. Jadi nanti masyarakat cukup memproduksi, kemudian ada pihak lain yang memasarkan, apakah BUMD atau yang lain, termasuk hingga ke ekspor,” ucapnya.

Kemudian untuk komoditas sagu, pihaknya sudah pelajari bahwa sejumlah daerah di Jawa sangat butuh, antara lain Cirebon (Jabar), Pati (Jawa Tengah), Surabaya (Jatim) juga butuh karena di sana ada pabrik biscuit yang berbahan sagu. Bahkan ada untuk kosmetik dan makanan kesehatan untuk penderita sakit gula dan autis.

“Jepang juga terima sagu, China juga sangat butuh. Begitu juga kopi, karena permintaan pasar dunia mencapai 50 persen, sementara produksinya belum sampai ke situ. Ini yang perlu kita perbaiki kualitas kopinya. Kalau kita sungguh-sungguh, dalam jangka yang tidak terlalu lama akan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Ladamay.

Pihaknya juga mencontohkan, di Sentani, ada kampung yang mempunyai luas hutan sagu 600 hektar. “Kalau dijadikan kebun sagu, 1 hektar bisa 100 pohon. Kalau satu pohon saja dihargai 500 ribu, berarti  1 hektar di sana  menghasilkan Rp 50 juta. Kalau 600 hektar berarti pendapatan cukup besar, asal masyarakat kita dorong untuk memanaj dengan baik. Itu belum diolah, kalau diolah, 1 pohon sagu bisa menghasilkan nilai tambah 4 jutaan dari tepung pati. Dari tepung pati bisa diolah lagi menjadi 396 jenis kuliner. Bahkan terakhir sudah berkembang sudah menjadi seribuan lebih, karena sudah mengadopsi teknologi makanan kontemporer, seperti makanan Korea, China, Jepang dll,” ucapnya panjang lebar.

Terkait hal ini, pihaknya sudah desain sistem sinergitasnya dengan instansi lain. “Kami akan kolaborasi dengan konsep ini, bukan hanya untuk RPJMD Papua tapi juga untuk nasional. Ini sudah kami diskusikan dengan Badan Ketahanan Pangan Nasional dan mereka cukup mendukung,” pungkasnya. (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *