Akibat Miras, Dua Sekolah Terlibat Tawuran

Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon,( FOTO : Yewen/Cepos)

SENTANI-Tiga orang siswa dari salah satu SMA swasta di Distrik Sentani, masing-masing berinisial TW, HD dan BT dalam keadaan dipengaruhi Miras melakukan keributan di SMA Kristen Koinonia dan SMP Dafonsoro, Senin (12/11).

Kejadian ini berawal saat ketiga siswa ini mengkonsumsi Miras di belakang SMA Kristen Koinonia dan SMP Dafonsoro. Tiba-tiba ketiganyamelakukan keributan di SMP Dafonsoro. Melihat hal tersebut, siswa SMA Kristen Koinonia berusaha melerai perkelahian tersebut. Namun ketiga pelaku ini malah  balik menyerang siswa dari SMA Koinonia sehingga keributan semakin meluas.

  Dua orang pelaku pemicu keributan ini melarikan diri dan 1 orang pelaku diamankan oleh Kepala SMA Koinonia. “Tidak lama kemudian datang 4 orang, 1 orang menggunakan motor langsung menabrak pintu gerbang dan 3 orang lainnya membawa alat tajam dan melakukan penyerangan terhadap siswa di SMA Kristen Koinonia, tapi SMA Koinonia dan SMP Dafonsoro bergabung dan pelaku melarikan diri,” jelas Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon, saat ditemui di Aula Lantai Dua Kantor Bupati Jayapura, Selasa (13/11).

Akibat keributan ini, menurut Victor 3 orang siswa di SMA Kristen Koinonia mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan terkena panah, sehingga langsung dilarikan ke RSUD Yowari untuk mendapatkan perawatan dari tim medis.

Victor menyampaikan, sebenarnya ini merupakan keributan atau tawuran antara anak-anak sekolah, di mana ada siswa yang dari salah satu SMA swasta di Sentani masuk ke dalam SMA Kristen Koinonia dan SMP Dafonsoro dalam keadaan mabuk sehingga menciptakan keributan di dalam sekolah.

“Kita sangat prihatin dengan kondisi ini. Oleh karena itu, kita berupaya agar ke depan tidak terjadi lagi, terutama perbuatan-perbuatan yang menganggu aktivitas sekolah,” ucapnya.

  Victor menyatakan, pihaknya akan menindak tegas perbuatan-perbuatan yang mengganggu aktivitas sekolah.  Pihaknya sendiri sudah melakukan proses penyelidikan dan penyidikan terhadap saksi dan calon tersangka.

“Walaupun calon tersangka di bawah umur, namun tetap kita tindak secara hukum, sehingga kedepannya tidak terjadi lagi. Kita lihat fenomena ini bukan baru, tapi sudah sering terjadi tawuran antara siswa,”tegasnya.

   Dia berharap kepada pihak sekolah dan Dinas Pendidikan, agar anak-anak yang tidak bisa diatur bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian, agar dilakukan pembinaan secara rutin terhadap siswa-siswi tersebut. (bet/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *